Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kaysan Najib Murtaza, Siswa MAN 1 Solo Ciptakan Robot Pendeteksi Stunting pada Anak  

Kabun Triyatno • Senin, 12 Agustus 2024 | 04:15 WIB
Alat pendeteksi stunting karya Kaysan Najib Murtaza dan dua rekannya. (A Christian/Radar Solo)
Alat pendeteksi stunting karya Kaysan Najib Murtaza dan dua rekannya. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Kreativitas memang tiada batas. Bermodal alat sensor, tripleks dan pipa paralon bekas, Kaysan Najib Murtaza membuat robot yang bisa mendeteksi stunting untuk anak dan memberi solusinya.

Stunting menjadi salah satu persoalan kesehatan yang saat ini menjadi salah satu fokus bagi pemerintah. Nah, siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Solo ini membuat kreativitas membuat robot yang didedikasikan untuk menekan angka stunting menuju Indonesia emas 2045.

Sekilas alat ini seperti timbangan dan pengukur tinggi badan biasa. Namun ternyata setelah diteliti dengan seksama, alat ini memiliki sensor ultrasonik dan quadcell 

Siswa kelahiran Kabupaten Batang ini menuturkan robot ini menggunakan algoritma ardoino project. Di mana terdapat tiga kemungkinan utama dari robot itu.

“Sensor ulatrasonik untuk pengukuran tinggi badan, dan quadcell untuk pengukuran berat badan," ujar Kaysan.

Setelah itu, sensor akan mengirimkan data ke mesin utama yang  akan dikalibrasi menggunakan rumus berat badan dibagi tinggi badan kuadrat. Dari situ akan muncul indeks masa tumbuh (IMT) dari anak tersebut.

"Jadi tiga kemungkinan utama, Bila IMT anak di bawah 17, maka anak terdiaknosa stunting. Maka robot akan secara otomatis mengeluarkan susu. Bila IMT anak 17 sampai 25, atau normal, maka akan keluar vitamin C. Bila di atas 25, maka anak terdeteksi obesitas. Maka robot secara otomatis akan mengeluarkan snack rendah kalori," urainya.

Kaysan mengatakan, dia membuat robot tersebut bersama tiga temannya yang tergabung dalam ekskul robotik.

"Kami buat ide rancangan itu bulan Januari. Mulai perakitan dan coding itu waktu bulan puasa. Jadi untuk ngabuburit, sambil menunggu waktu berbuka," ujar dia.

Ketika membuat alat tersebut, tidak sekali jadi. Namun sebanyak tiga kali menemukan kendala. Pertama, salah di bagian pengcodingan, kemudian dibenahi lagi. Kemudian salah kedua di rumus kalibrasi. Kesalahan yang ketiga dibagian sensor berat, tidak mendeteksi.

"Setelah programnya jadi, sudah mau mendekati hari Lebaran. Nah tinggal kami buat bodinya. Karena sudah mendekati Lebaran toko bangunan pada tutup. Lihat di gudang asrama ada tripleks dan paralon bekas itu, akhirnya kami putuskan untuk pakai bahan-bahan itu untuk bodinya," papar Kaysan.

Motivasi membuat robot ini, kata Kaysan, karena tingginya angka stunting di Kota Bengawan. Ini berdasar data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo. Dari inilah dia dan kedua temannya lantas berpikir untuk ikut andil mengatasi stunting.

"Kadang stunting ini tidak terdeteksi karena anak malah datang ke posyandu. Dengan adanya alat ini, diharapkan bisa meningkatkan minat anak untuk melakukan pengecekan ke Posyandu," kata dia. 

Kaysan berencana mematenkan alat tersebut. Di mana saat megikuti event Duta Generasi Berencana, sudah ada ajakan dari DP3AP2KB Kota Solo untuk mendaftarkan alat tersebut ke Badan Riset dan lnovasi Nasional (BRIN).

"Cuma sampai saat ini belum ada  komunikasi lebih lanjut," ujarnya. 

Bila telah mengantongi hak paten, maka tidak menutup kemungkinan Kasyan akan memproduksi robot ini secara masal. Namun untuk harga, dia mengaku belum memikirkan hal tersebut.

"Untuk produksinya saya menghabiskan biaya Rp 400 ribu," ujar  Kaysan. (atn/bun) 

 

Editor : Kabun Triyatno
#man 1 solo #stunting #robot