RADARSOLO.COM - Pemkot Solo meminta pengelola perusahaan daerah (Perusda) Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) m melakukan evaluasi dan inventarisasi semua hewan yang ada di Solo Safari.
Hal ini menyusul kasus dua gajah sumatera koleksi Solo Safari yang mati mendadak dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Pemkot Solo mengaku heran mengapa bisa sampai ada satwa mati di lokasi tersebut. Apalagi dalam jaraknya yang berdekatan. Yakni Juli-Agustus 2024.
Wali Kota Solo Teguh Prakosa mengatakan pihaknya telah berdiskusi dengan Sekda Solo Budi Martono terkait persoalan tersebut.
Sejauh ini TSTJ selaku joint operation Solo Safari, juga belum memberikan laporan ke pemkot
"Sudah diskusi dengan sekda. Saya juga masih menunggu laporan (dari TSTJ)," ujar Teguh, Sabtu (24/8).
Menurut Teguh, kematian dua gajah tersebut merupakan suatu keanehan.
Terlebih Solo Safari tidak hanya kebun binatang, tetapi konservasi.
"Itu (dua gajah mati) suatu keanehan. Namanya konservasi itu ada binatang-binatang langka dan sebagainya. Binatang-binatang yang dilindungi dan sebagainya. Maka saya minta ada laporan dari Perusda TSTJ," tegas Teguh.
Wali Kota mengaku baru mengetahui persoalan tersebut kemarin.
"Nanti kita tunggu laporan TSTJ dulu melaporkan kondisinya. Baru pihak ketiga Solo Safari turut menjelaskan," ucap dia.
GajahBaca Juga: Tak Hanya 1, Ternyata 2 Ekor Gajah di Solo Safari Mati hanya dalam Tempo 2 Bulan
Teguh juga meminta pihak TSTJ melakukan inventarisasi semua satwa yang ada di Solo Safari.
Setelah itu, akan diketahui berapa ekor satwa milik TSTJ yang dititipkan di Solo Safari.
"Kita inventaris semua satwa di Solo Safari milik siapa saja. Kita punya satwa sendiri yang dititipkan di Solo Safari," papar Teguh.
"Apakah itu (dua gajah mati) satwanya sana (Solo Safari) atau binatangnya Pemkot Solo (TSTJ)," imbuh dia.
Lebih lanjut, Teguh meminta agar TSTJ dan Solo Safari juga memberi penjelasan kepada media atas kejadian ini.
"Agar masyarakat juga mengetahui secara jelas,apa yang salah dalam pengelolaan Taman Safari Indonesia (pihak ketiga)," pungkas dia. (atn/ria)
Editor : Syahaamah Fikria