Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sambut Grebeg Maulud! Begini Proses dan Makna Jamasan Gamelan Pusaka Gangsa Kanjeng Kyai Surak di Keraton Solo

Antonius Christian • Sabtu, 7 September 2024 | 21:21 WIB
Keraton Solo melaksanakan jamasan gamelan pusaka Gangsa Kanjeng Kyai Surak sebagai rangkaian Grebeg Maulud (Sekaten), Sabtu (7/9).
Keraton Solo melaksanakan jamasan gamelan pusaka Gangsa Kanjeng Kyai Surak sebagai rangkaian Grebeg Maulud (Sekaten), Sabtu (7/9).

RADARSOLO.COM - Rangkaian Hajad Dalem Paraden Garabeg Maulud (Sekaten) Tahun Je 1968 mulai digelar. Salah satu agendanya adalah membersihkan gamelan pusaka atau jamasan Gangsa Kanjeng Kyai Surak pada Sabtu (7/9) pagi.

Dari pantauan radarsolo.com, jamasan diikuti puluhan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta di Bangsal Bale Bang Sitihingil Keraton.

Pada rangkaian ritual Sekaten itu, pihak Keraton Solo juga juga melakukan jamasan pusaka. Antara lain jamasan Songsong Kanjeng Kiai Brawijaya dan meriam Kanjeng Nyai Setomi.

Pengageng Sasana Wilapa, KPH Dany Nur Adiningrat menuturkan, Gangsa atau Gong Besar Kanjeng Kyai Surak sendiri merupakan peninggalan dari era Kerajaan Majapahit yang memiliki latar belakang agama Hindu.

Ketika berganti era Kerajaan Demak yang memiliki latar belakang agama Islam, semua gong besar dikubur di daerah Gumantar.

"Kemudian, ketika era Sultan Agung, Prabu Hanyokrokusumo, semua gong besar digali kembali. Tapi ada satu yang tidak bisa diangkat. Dulu namanya Kanjeng Kyai Kanigoro," ujarnya.

Akhirnya Prabu Hanyokrokusumo memerintahkan agar gong tersebut diangkat beramai-ramai, sembali rakyat Gumantar bersorak-sorak membakar semangat agar bisa mengangkat gong tersebut.

"Jadi teriak-teriak gitu, akhirnya bisa terangkat. Oleh karena itu, kemudian Kanjeng Kyai Kanigoro berubah nama menjadi Kanjeng Kyai Surak," jelas Dany.

Para abdi dalem Keraton Solo membersihkan gamelan.
Para abdi dalem Keraton Solo membersihkan gamelan.


Ada pula sejarah yang mencatat, ketika masa pindahan Keraton Mataram dari Kartasura menuju Desa Sala (Solo), Sinuwun Paku Buwono (PB) II duduk di Bangsal Pengrawit.

PB II membawa Gong Pusaka Kanjeng Kyai Surak di tangan kirinya.

"Lalu gong ini didorong, diglundungke istilahnya, untuk memilih tempatnya sendiri. Di mana gong itu berhenti, maka disitu tempatnya. Dari situ dibangunlah Bale Bang," ungkapnya.

Adapun jamasan digelar, karena pusaka Keraton Solo itu akan digunakan dalam rangkaian Grebeg Maulud. Sehingga sebelum digunakan, akan dibersihkan.

Baca Juga: Pemkot Solo Ikut Disebut dalam Kasus Jet Pribadi Kaesang, Begini Respons Wali Kota Solo

"Maknanya, seperi orang mau punya acara atau beraktivitas, pasti membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin," tutur Dany.

Membersihkan diri ini dengan maksud agar tidak terganggu nasib sial, atau kotoran jiwa.

"Karena ini perangkat gamelan, tujuannya agar tidak terkotori kotoran fisik, dan energinya bisa maksimal. Sekalian dicek juga ketika mau digunkan. Ada kerusakan tidak, ada yang kurang tidak," pungkasnya. (atn/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#grebeg maulud #sekaten #gamelan #jamasan #Keraton Solo #Pusaka #keraton kasunanan surakarta