RADARSOLO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang mengeluarkan edaran terkait kesiapsiagaan menghadapi fenomena cuaca ekstrem di Provinsi Jawa Tengah selama bulan Oktober 2024.
Cuaca panas yang melanda beberapa waktu terakhir di wilayah ini dipengaruhi oleh fenomena astronomi Kulminasi Utama yang terjadi antara 9-13 Oktober.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan bahwa Kulminasi Utama adalah kondisi di mana matahari berada di posisi paling tinggi di langit, menyebabkan bayangan benda dan pengamat seolah menghilang. Fenomena ini kerap disebut juga sebagai hari tanpa bayangan.
“Fenomena ini menyebabkan suhu udara maksimum di Jawa Tengah. Sejak 30 tahun terakhir, bulan Oktober mencatat suhu tertinggi, seperti pada 2015 dengan suhu 39,5 derajat Celsius, dan 38,1 derajat Celsius pada 2023,” jelas Yoga melalui rilis yang diterbitkan pada Senin (30/9).
Selain suhu ekstrem, masa transisi pancaroba yang terjadi pada awal hingga pertengahan Oktober juga berpotensi memicu pembentukan awan Cumulonimbus yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem, seperti kilat, angin kencang, hujan es, hingga puting beliung. Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar bersiap menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu ini.
Panas ekstrem yang melanda beberapa wilayah di Jawa Tengah membuat Pemerintah Kota Surakarta (Solo) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan bencana kekeringan.
Sejumlah upaya antisipasi telah dilakukan oleh berbagai pihak terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo.
Kepala DLH Kota Solo Kristiana Hariyati mengungkapkan bahwa pihaknya meningkatkan patroli rutin untuk mengantisipasi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo. Selain itu, DLH juga melakukan penyiraman rutin pada tumpukan sampah di TPA agar tidak memicu kebakaran secara tiba-tiba.
“Patroli dan penyiraman rutin dilakukan untuk meminimalkan potensi kebakaran. Cuaca panas seperti ini bisa memicu kebakaran dari tumpukan sampah yang kering,” ujar Kristiana.
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo juga meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiagakan petugas selama 24 jam penuh. Kepala Dinas Damkar Sutarjo menyebut bahwa pengecekan hidran di berbagai titik Kota Solo juga rutin dilakukan untuk memastikan pasokan air mencukupi saat terjadi kebakaran.
“Petugas selalu standby. Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan karena ini bisa memicu kebakaran lahan kosong seperti yang sering terjadi di daerah sekitar Solo,” ungkap Sutarjo.
Selain mengantisipasi kebakaran, Pemkot Solo juga mewaspadai potensi bencana kekeringan selama puncak musim kemarau ini.
Kepala BPBD Kota Solo Niko Agus Putranto menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kekeringan di Solo, namun tim tetap disiagakan untuk memantau wilayah-wilayah rawan kekeringan.
“Siaga bencana kekeringan masih aktif. Kami memantau beberapa wilayah rawan dan menyiagakan peralatan bantuan seperti tendon air portabel dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” ujar Niko.
Dengan kesiapan dan koordinasi yang intens dari berbagai pihak, diharapkan Kota Solo dapat meminimalkan dampak dari fenomena cuaca ekstrem ini. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno