RADARSOLO.COM – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar Hari Wayang Dunia (HWD) X dengan tema "Wayang Inovasi: Reka Cipta Wayang untuk Kejayaan Negeri,". Digelar selama tiga hari pada 1-3 November. Gelaran dibuka dengan sajian wayang inovatif di Pendapa GPH Djojokusumo, ISI Surakarta, Jumat malam (1/11).
Wayang inovasi ini mendapat apresiasi langsung dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, yang hadir secara langsung di acara ini. Menurutnya, inovasi dalam wayang ini memperkaya budaya sekaligus menarik minat generasi muda.
“Apalagi ada sentuhan-sentuhan teknologi digital dan juga cerita-cerita yang semakin banyak kreasinya. Di samping tentu memelihara pakem tapi juga kreasi-kreasi baru saya kira sangat penting agar bisa diterima oleh masyarakat yang lebih luas,” ungkap Fadli Zon.
Fadli menambahkan, tantangan utama ke depan adalah memastikan wayang bisa diterima di seluruh Nusantara, serta memanfaatkan wayang sebagai media bagi cerita rakyat dan kearifan lokal di era digital ini.
HWD X ISI Surakarta juga dibuka langsung pengageng Pura Mangkunegaran KGPAA Mangkunegara X (Gusti Bhre). Secara simbolis Gusti Bhre dan rektor ISI Solo menancapkan kayon menandai memulainya HWD X ISI Surakarta.
"Dengan kolaborasi, teknologi berkembang dan cara pandang kontekstual, wayang bisa lebih relevan dan dinikmati semua generasi. HWD X yang diinisiasi dan diselenggarakan semoga menjadi wadah yang bermanfaat dan berkarya," ucap Gusti Bhre.
Rektor ISI Surakarta I Nyoman Sukerna menambahkan tema wayang inovasi di HWD X ini relevan dengan tantangan zaman. "Ajang ini menjadi pertemuan ide dan pengalaman antara seniman dan akademisi dalam menjaga seni wayang dan seni pedalangan agar tetap hidup dan berkembang," ujarnya.
Nyoman mengatakan, kehadiran masyarakat dapat menjadi dukungan bagi ISI Surakarta dalam mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya.
Sementara itu, Ketua Panitia HWD X Sunardi menjelaskan, inovasi wayang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap seni wayang.
"Serta menunjukkan bahwa kemajuan teknologi bisa menyatu dengan seni tradisional tanpa mengorbankan nilai luhur wayang sebagai media literasi dan edukasi moral," berbernya.
Beragam kegiatan turut menyemarakkan HWD X ini. Di tiga lokasi, yakni Pendapa Ageng, Teater Besar, dan Teater Kecil ISI Surakarta. Menampilkan 28 pertunjukan wayang, mulai dari wayang kulit gaya Surakarta, Yogyakarta, Banyumasan, Jawa Timuran, hingga wayang kolaborasi dan wayang komik tari. Para dalang yang hadir tidak hanya profesional tetapi juga dari berbagai usia dan asal, termasuk anak-anak, remaja, hingga warga negara asing.
Selain pertunjukan, HWD X menyajikan seminar nasional tentang inovasi wayang, pameran wayang inovatif, ruwatan massal yang diikuti oleh masyarakat dari berbagai daerah, dan lomba mewarnai wayang bagi anak-anak SD se-Surakarta. Buku hasil karya sivitas akademika ISI Surakarta juga dipamerkan, memperkaya gelaran ini sebagai bentuk kontribusi ISI dalam menjaga warisan budaya yang telah diakui oleh UNESCO.
"Kami berharap HWD ini menjadi salah satu wahana mendorong dan mewujudkan cita-cita luhur Bapak Menteri Kebudayaan yaitu Indonesia sebagai ibu kota budaya dunia," tandasnya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy