RADARSOLO.COM - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Pasar Gede, Kelurahan Sudiroprajan menyimpan sebuah kisah unik tentang harmoni dan toleransi.
Kelompok Barongsai Macan Putih menjadi simbol nyata akulturasi budaya Tionghoa-Jawa di wilayah tersebut.
Uniknya, hampir seluruh anggota kelompok ini merupakan warga asli Jawa dan mayoritas menganut agama Islam.
Bagi Samuel Chistianto, 56, selaku pembina Barongsai Macan Putih, keberadaan kelompok ini adalah bagian tak terpisahkan dari identitas Sudiroprajan.
“Di sini, budaya Tionghoa-Jawa tidak hanya terlihat dari rumah, makanan, atau tradisi, tetapi juga dari seni seperti barongsai,” ujar pria yang akrab disapa Pak Sam.
Sejarah Barongsai Macan Putih dimulai pada 1988, di tengah situasi politik yang penuh tekanan terhadap tradisi Tionghoa.
Berkat semangat masyarakat Kampung Pecinan seperti Balong, Mijen, Limolasan, dan lainnya, barongsai tetap hidup dan berkembang hingga kini.
“Dulu sulit sekali, latihan sering tidak diberi izin, bahkan pertunjukan sering dibubarkan. Tapi karena kami merasa ini budaya asli kampung kami, kami pertahankan,” kenang Pak Sam.
Baca Juga: Duo Wening-Jepank Luncurkan Lagu Spesial Imlek, Potret Toleransi dan Keberagaman Solo
Kini, barongsai di Sudiroprajan bukan hanya milik etnis Tionghoa. Akibat banyaknya pernikahan campur dan regenerasi yang berjalan baik, kelompok ini menjadi wadah bagi semua warga.
“Sekarang tidak ada istilah China atau Jawa di sini, yang ada hanya warga Sudiroprajan. Semuanya terlibat menjaga tradisi ini,” imbuhnya.
Keunikan Barongsai Macan Putih terletak pada keragaman anggotanya. Meskipun seni barongsai berasal dari tradisi Tionghoa, mayoritas anggotanya justru beragama Islam, sementara sisanya adalah umat Kristiani.
Hal ini tidak menjadi penghalang, melainkan pengikat kebersamaan.
“Saya beragama Islam, tapi tidak ada masalah bergabung di sini. Justru dari kecil saya sudah akrab dengan barongsai di kampung ini,” ungkap Prasetya, seorang remaja yang telah tiga tahun bergabung di kelompok tersebut.
Hal serupa diutarakan Syahirul Alim Prakosa, anggota muda lainnya. Ia menegaskan bahwa barongsai di Sudiroprajan tidak hanya menjadi seni, tetapi juga simbol toleransi dan persatuan.
“Tanpa diajak, anak-anak muda di sini pasti ikut. Kami saling merangkul dan menerima perbedaan. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman itu indah,” ujarnya.
Hingga kini, Barongsai Macan Putih tetap menjadi daya tarik di berbagai acara, terutama saat Imlek dan Grebeg Sudiro.
Kelompok ini juga menjadi inspirasi tentang bagaimana budaya bisa menjadi jembatan harmoni.
“Semoga kebersamaan di sini bisa menginspirasi orang lain untuk terus merawat toleransi,” tutur Alim penuh harap. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram