Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Semangat Keberagamaan Imlek di Kota Solo, Berbaur Bersama tanpa Sekat

Silvester Kurniawan • Rabu, 29 Januari 2025 | 22:27 WIB
Warga Sudiroprajan Solo menggelar umbul mantram menyambut Imlek di depan Pasar Gede, belum lama ini.
Warga Sudiroprajan Solo menggelar umbul mantram menyambut Imlek di depan Pasar Gede, belum lama ini.

RADARSOLO.COM - Semarak Imlek di Kota Solo mendapat banyak pengakuan karena menjadi salah satu momen perekat antaretnis dengan semangat toleransi dan keberagaman.

Event yang mulai dihelat secara terbuka sejak 2007 silam kini telah menjelma menjadi wajah kebhinekaan yang banyak dicontoh oleh berbagai wilayah lain di Indonesia.

Beragam masyarakat dari berbagai etnis tampak antusias memperebutkan kue keranjang yang merupakan kue khas Tionghoa di momen Imlek.

Mereka yang berasal dari berbagai latar usia itu berbaur bersama tanpa ada sekat dan jarak.

Momen toleransi ini sudah menjadi bagian tradisi di Grebeg Sudiro yang digelar dalam rangkaian perayaan Imlek di Kota Solo.

Perubahan situasi toleransi dari waktu ke waktu ini selalu membuat trenyuh pada sesepuh Tionghoa di Solo. Mereka merasakan bagaimana Imlek sudah menjadi milik bersama.

“Saya setiap ada perayaan seperti ini, bisa main liong dan barongsai, saya selalu nangis. Saya terharu akhirnya Solo bisa sedemikian baik toleransinya, sedemikian baik semangat keberagamannya. Apalagi kalau kita ingat zaman dulu, jadi apa yang telah kita capai saat ini benar-benar selalu membuat haru untuk kami yang sudah tua-tua seperti ini,” ucap Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pada Minggu (26/1/2025) lalu, Dana memimpin rombongan kirab dari Klenteng Tien Kok Sie yang meramaikan puncak Grebeg Sudiro 2025.

Di usia yang lebih dari separuh abad, semangatnya menyala, tak kalah dari anak muda.

Suasana makin semarak saat rombongan mengangkat jodang sesembahan, menyalakan petasan, dan melanjutkan ritual di depan klenteng.

Dana mengenang masa lalu yang penuh tantangan. Dia mana dia menyaksikan bagaimana warga Tionghoa diperlakukan di tiga zaman berbeda.

“Saya ini mengalami tiga zaman. Periode Soekarno baik-baik saja. Periode Soeharto penuh tekanan, banyak larangan, dan tidak bisa mengekspresikan diri. Pasca Soeharto, mulai dari BJ Habibie, Gus Dur, hingga Megawati, apresiasi terhadap kami semakin baik hingga saat ini. Makanya, Imlek bisa dirayakan semeriah ini dan dinikmati bukan hanya oleh orang Tionghoa, tapi oleh semua,” tuturnya.

Grebeg Sudiro bermula dari ide sederhana pada 2005, saat 200 lampion dipasang di depan Klenteng Tien Kok Sie.

Anak muda Kelurahan Sudiroprajan yang melihatnya tertarik dan bertanya mengapa tidak dibuat lebih besar.

Setahun kemudian, ide itu diwujudkan menjadi arak-arakan budaya yang dinamai Grebeg Sudiro, menggabungkan konsep grebeg keraton dengan nuansa khas Imlek.

Gunungan tradisional diganti dengan gunungan kue keranjang, melambangkan akulturasi budaya yang apik.

Perayaan Imlek di Solo kini sudah menjadi milik semua warga, tak terbatas pada etnis Tionghoa. Cintya Rosalin, jemaat Klenteng Tien Kok Sie mengungkapkan antusiasmenya.

“Dari tahun ke tahun, Imlek di Solo selalu lebih baik. Sekarang ini bukan hanya milik orang Tionghoa, tapi jadi event milik semua orang. Toleransi dan keberagaman di Solo tak perlu diragukan lagi,” katanya.

Hal senada disampaikan David Wijayanto, warga Kampung Sewu, Kecamatan Jebres. “Saya bukan umat Tionghoa, tapi ikut bantu di sini.

Orang seperti saya ini banyak. Semua ikut meramaikan karena Imlek telah menjadi festival keharmonisan dan gotong royong di Kota Solo,” ujar pria yang kerap dikenal sebagai Naruto-nya PMI Solo ini.

Wali Kota Solo Teguh Prakosa menyebut Grebeg Sudiro dan perayaan Imlek sebagai event unggulan nasional yang mencerminkan wajah toleransi Kota Solo.

“Akulturasi budaya ini terlihat dari masyarakatnya, kuliner, seni, dan tradisi yang ada. Ini wujud keberagaman yang apik di Kota Solo. Masyarakat yang hidup harmonis dan berdampingan menjadi wajah toleransi yang terpelihara hingga kini,” ujarnya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga memberikan apresiasi dengan kembali memilih Grebeg Sudiro sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara 2025.

“Kami berharap kegiatan ini terus memberikan dampak positif dalam merawat seni budaya, merajut kebersamaan, dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Asisten Deputi Event Kemenparekraf Reza Pahlevi. (ves/bun)

Editor : Damianus Bram
#imlek #keberagamaan #grebeg sudiro #solo #Klenteng Tien Kok Sie #lampion #toleransi