Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pemangkasan Perjalanan Dinas 50%, Hotel di Solo Terpukul: Ancaman Kerugian Enggak Main-main

Maulida Afifa Tri Fahyani • Jumat, 7 Februari 2025 | 22:20 WIB
Ilustrasi turunnya pendapatan bidang perhotelan pasca pemerintah pangkas biaya perjalanan dinas hingga 50%.
Ilustrasi turunnya pendapatan bidang perhotelan pasca pemerintah pangkas biaya perjalanan dinas hingga 50%.

RADARSOLO.COM-Kebijakan efisiensi anggaran negara yang diterapkan pemerintah, terutama pemangkasan perjalanan dinas hingga 50 persen, berdampak signifikan pada sektor perhotelan di Solo.

Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Wening Damayanti, mengungkapkan bahwa sejak kebijakan ini diberlakukan, sejumlah hotel mulai kehilangan banyak pemesanan.

"Setelah instruksi presiden turun, banyak hotel mengalami pembatalan bisnis dengan nilai kerugian mencapai ratusan juta rupiah per hotel," jelas Wening saat dihubungi radarsolo.com, Jumat (7/2/2025).

"Kami yang menerima event sebelumnya harus menutup reservasi untuk acara lain, sehingga kerugian semakin besar," imbuh dia. 

Menurut Wening, dampak kebijakan ini paling terasa di hotel-hotel berbintang 4 dan 5 yang sering menjadi lokasi acara lembaga dan kementerian.

Namun, hotel berbintang 3 yang biasa digunakan sebagai akomodasi perjalanan dinas pemerintah juga turut terdampak.

Selain itu, pemangkasan anggaran perjalanan dinas berimbas pada penurunan okupansi dan pasar MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), yang menjadi andalan hotel di Solo.

“Bisnis hotel yang bergantung pada acara pemerintah sangat terdampak. Jika kondisi ini terus berlanjut, sektor perhotelan berisiko mengalami gelombang PHK,” jelasnya.

Untuk mengatasi kehilangan pasar dari sektor pemerintah, hotel-hotel di Solo berupaya menyasar wisatawan leisure dan acara sosial.

Namun, tantangan besar dihadapi karena Solo lebih dikenal sebagai destinasi utama untuk acara MICE daripada wisata rekreasi.

"Hotel di Solo lebih banyak melayani MICE dibandingkan wisatawan biasa. Kami harus berusaha mengganti pasar yang hilang dengan strategi baru," tambah Wening.

Baca Juga: Buntut Anggaran IKN 2025 Diblokir, Istana Pastikan Presiden Prabowo Tetap Berkomitmen Selesaikan Pembangunan Ibu Kota Nusantara

DPC PHRI Solo terus berkoordinasi dengan DPD PHRI untuk memantau dampak kebijakan ini.

Wening juga menyebutkan bahwa PHRI pusat telah melakukan audiensi dengan pemerintah guna mencari solusi agar sektor perhotelan bisa segera pulih.

“Pemerintah harus tetap mendukung sektor pariwisata, termasuk industri perhotelan di Solo, agar tetap berkembang. Kami berharap ada promosi yang lebih agresif untuk menarik wisatawan guna menggantikan pasar pemerintah yang hilang,” pungkasnya. (ul/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#phri #perjalanan dinas #solo #dipangkas #hotel #anggaran #merugi