Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Proyek Kolam Retensi Simpang Joglo Tertunda, Solo Masih Terancam Banjir

Silvester Kurniawan • Sabtu, 8 Februari 2025 | 04:20 WIB
Menteri PU Dody Hanggodo melihat kondisi lapangan di Simpang Joglo, Jumat (7/2/2025). (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Menteri PU Dody Hanggodo melihat kondisi lapangan di Simpang Joglo, Jumat (7/2/2025). (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Harapan warga Sambireja, Banjarsari, Solo segera terbebas dari genangan di Simpang Joglo tampaknya harus kembali tertunda.

Rencana pembangunan kolam retensi sebagai solusi utama pengendalian banjir di kawasan itu belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat.

Akibatnya, saat hujan deras mengguyur Kota Bengawan, genangan dan potensi banjir di underpass Joglo masih menjadi pemandangan yang tak terhindarkan.

Dalam kunjungannya ke Solo pada Jumat (7/2), Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung titik-titik rawan banjir di kawasan Simpang Joglo.

Dia menegaskan bahwa penyelesaian masalah genangan tidak cukup hanya dengan membangun kolam retensi, tetapi juga harus dibarengi dengan normalisasi sungai dan pembenahan sistem drainase.

"Rencana pembangunan kolam retensi memang ada, tetapi bukan itu saja masalahnya. Sungai perlu dinormalisasi, drainase harus diperbaiki. Ini semua harus tuntas dulu sebelum saya lapor ke Pak Presiden untuk bisa diresmikan," ujar Dody.

Namun, persoalan terbesar yang menghambat eksekusi proyek ini adalah status lahan yang belum siap. Area yang direncanakan untuk pembangunan kolam retensi masih menjadi aset milik Kodam IV Diponegoro.

"Lahan ini masih milik Kodam IV Diponegoro. Mereka meminta aset pengganti di lokasi lain. Kami masih menunggu keputusan dari pihak Kodam, seperti apa mekanismenya.

Daripada membuat perjanjian baru, lebih baik diadendum saja, karena ini terkait langsung dengan underpass. Kalau hujan deras seperti sekarang, underpass pasti banjir," ungkapnya.

Menurut Dody, jika proses tukar guling aset bisa segera diselesaikan, pembangunan kolam retensi bisa langsung dimulai. Selain itu, pemerintah pusat juga berencana menjalin kolaborasi dengan pemerintah kota dan berbagai lembaga di bawah Kementerian PU untuk mempercepat penanganan genangan di kawasan tersebut.

"Kolaborasi pasti dilakukan. Nantinya pengelolaan ada di pemkot. Kami berharap pemkot bisa menyertakan anggaran untuk mendukung proyek ini. Kalau tidak ada dana, tetap harus kita pikirkan solusi agar proyek tetap berjalan," tegasnya.

Sementara itu, PPK 3.5 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Provinsi Jawa Tengah Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Jateng-DIJ Kementerian PU Emy Eko Setiyawati mengakui bahwa proyek kolam retensi seluas 1.300 meter persegi masih menunggu kepastian lahan dari Kodam IV Diponegoro.

Hingga saat ini, detail engineering design (DED) proyek tersebut belum bisa disusun karena status lahan belum jelas.

"Kami masih dalam tahap pembicaraan dengan Kodam. Setelah ada kesepakatan, baru DED bisa disiapkan. Sejauh ini Kodam menyatakan dukungan, tapi kami masih menunggu kepastian lebih lanjut," jelasnya.

Dengan belum adanya kepastian lahan, pembangunan kolam retensi di Simpang Joglo masih harus menunggu waktu lebih lama. Sementara itu, warga Sambirejo harus tetap bersiap menghadapi genangan dan banjir yang berulang setiap kali hujan deras mengguyur kota. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#genangan #proyek #simpang joglo #Pembangunan