RADARSOLO.COM - Festival budaya banyak digelar di Kota Bengawan dalam berbagai momen.
Top-top event yang sudah disusun rapi oleh pemerintah kota dari awal hingga akhir tahun tersebut menjadi daya tarik tersendiri.
Lantas seberapa besar dampaknya untuk pelestarian budaya?
Sebelum bicara mengenai pelestarian budaya, program Pemerintah Kota Solo perlu diapresiasi. Dalam pandangan pemerhati budaya asal Kota Solo Tundjung W. Sutirto, pemerintah daerah itu menjadi fasilitator bagaimana budaya itu dimanfaatkan. Termasuk dijadikan media untuk meningkatkan kesadaran warga perlunya memiliki kebanggaan.
"Sebagai fasilitator peran pemerintah dalam gelaran budaya itu menjadi penting. Terutama Pemkot Solo, saya rasa tepat membaca peluang untuk membangun kesejahteraan masyarakat kota melalui gelaran budaya," ujar Tundjung kepada Jawa Pos Radar Solo.
“Orang luar datang ke Solo harus belanja budaya. Karena potensi besar kota Solo ada di bidang budaya itu. Maka, saya mengapresiasi jika peran fasilitator oleh Pemerintah Kota Solo yang sering menggelar festival budaya itu perlu dijaga keajegannya," lanjutnya.
Lalu, sejauh mana festival budaya berkontribusi terhadap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya budaya? Tundjung menjelaskan, dalam perspektif ilmu sosial festival itu punya peran sentral dalam mempererat integrasi sosial.
Secara konsep sosial, lanjutnya, semakin sering di sebuah kota diselenggarakan festival semakin erat integrasi sosialnya. Karena, festival menjadi sarana bertemunya warga kota dalam gelaran tersebut.
"Apalagi Kota Solo yang merupakan kota pewaris Praja Kejawen yang kaya akan tradisi, sehingga festival yang inheren dengan core budaya akan membawa kesadaran masyarakat terhadap budayanya karena masyarakat adalah pemangku kepentingan," jelas Tundjung.
Ambil contoh, Festival Jenang Solo yang digelar setiap 17 Februari. Agenda ini mempunyai multiplier effect terhadap penghargaan produk jenang yang mudah dijumpai di Kota Solo.
"Begitu juga yang lainnya seperti Solo Batik Carnival, Festival Keroncong, dan lainnya yang faktanya didukung oleh masyarakat," tambahnya.
Lebih lanjut, jika festival itu terkait core budaya lokal, itu jelas merupakan bentuk pelestarian. Tundjung menyebutkan, pelestariannya ada pada substansi atau konten festivalnya bukan pada kemasannya.
"Karena inovasi dan kreasi pasti mengikuti selera generasi kontemporer," tambahnya.
Selain berpengaruh besar pada pelestarian, festival ini juga memberi dampak terhadap eksistensi seniman dan budayawan di Solo. Salah satu dampak positif, misalnya dengan festival ada penghargaan terhadap karya-karya seniman.
"Sekaligus festival menjadi media promosi terhadap karya seniman kepada masyarakat luas. Festival menciptakan networking antar pelaku seni, kurator seni, dan masyarakat, sehingga karya seniman menjadi berkembang," tuturnya.
"Sedangkan dampak negatifnya, dengan festival seringkali terjadi komersialisasi yang bisa jadi mengabaikan makna seninya," tambahnya.
Selain itu, ada tantangan lain yang dihadapi. Tundjung menyebut, tantangan yang paling utama adalah perubahan cara pandang. Ini terkait banyaknya aliran seni yang ada.
"Ada seniman yang ingin tetap konsisten di jalur klasik ada juga yang ingin terus kontemporer. Tetapi, terkait festival saya memandang bahwa unsur yang bisa diadaptasi adalah soal kreativitas. Publik akan tertarik kepada pembaharuan. Tinggal bagaimana seniman memandang dimensi kreativitas dalam setiap festival itu," paparnya.
Selain itu, festival secara alamiah akan menjadi wahana edukasi juga. Bukan saja soal regenerasi yang bisa dibangun dari festival tetapi soal transformasi.
"Alih pengetahuan bisa lahir dari festival dengan konsep reward (penghargaan) misalnya, festival dalang cilik, itu juga regenerasi juga transformasi," tambahnya. (nis/nik)
TOP EVENT SOLO 2025
16-31 Januari : Grebeg Sudiro
29 April : Solo Menari
25-26 Juli : Solo Keroncong Festival
4-6 September : Solo International Performing Arts
14-15 November : International Mask Festival
Editor : Niko auglandy