Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Festival Jenang Solo, Menyajikan Kuliner Tradisional dengan Pesan Filosofis

Mannisa Elfira • Senin, 17 Februari 2025 | 15:49 WIB
Warga antusias mencicipi 15 ribu takir jenang gratis di Festival Jenang Solo, Sabtu (17/2).
Warga antusias mencicipi 15 ribu takir jenang gratis di Festival Jenang Solo, Sabtu (17/2).

RADARSOLO.COM - Festival Jenang akan kembali menghiasi jalanan Kota Bengawan, 17 Februari mendatang.

Rutin digelar untuk melestarikan warisan budaya leluhur, Festival Jenang menjadi salah satu agenda yang ditunggu-tunggu masyarakat.

Jenang jelas tidak asing bagi masyarakat Jawa.

Budayawan asal Solo, Surojo menjelaskan jenang sudah menjadi tradisi yang melekat bagi orang Jawa.

Jadi sejak dahulu, baik berbentuk bubur ataupun wajik, itu senantiasa selalu digunakan oleh orang Jawa pada umumnya, Keraton Kasunanan Surakarta pada khususnya.

"Hanya kalau di keraton itu pernak-perniknya lebih komplet. Sedangkan untuk orang umum istilahnya sederhana. Mungkin hanya jenangnya saja," jelas Surojo kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kebiasaan membuat jenang ini sudah ada sejak lama. Surojo menuturkan, ada banyak jenis jenang. Jenang merupakan kuliner tradisional yang sengaja dibuat untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Yang pastinya bukan tanpa makna.

"Kebiasaan membuat jenang kan sudah lama. Misalnya setiap ada acara kenduri, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, orang Jawa selalu menggunakan jenang, namanya jenang sepasaran," sebut Surojo.

"Kemudian ketika kalau di keraton biasanya ada jenang wajik putih, hijau, kuning, dan merah," sambungnya.

Ada juga jenang yang dinamakan jenang sum-suman. Surojo menjelaskan, jenang tersebut biasanya diperuntukkan saat habis hajatan. Tepatnya ketika pembubaran panitia.

"Itu ada yang namanya jenang sum-suman. Jenang untuk orang yang hadir. Maknanya memberikan kekuatan seperti sumsum," jelas Surojo.

"Kemudian ada lagi, jenang timbul. Itukan semacam harapan, biasanya dibuat ketika misalnya ada acara selamatan di luar kematian. Kalau kematian jenang sepasaran," imbuh Surojo.

Selain itu, ada yang dinamakan jenang katul. Jenang ini menandakan bahwa manusia tidak bisa berdiri sendiri dan memerlukan orang lain.

"Jenang katul dibuat dalam rangka untuk kegiatan sosial. Misalnya kita mengundang orang, dibuat jenang kathul dengan harapan manusia kan makhluk sosial yang membutuhkan sesama manusia. Salah satunya untuk mempererat hubungan persaudaraan," papar Surojo.

Surojo memaparkan jenang dibuat sesuai dengan event. Nah, Festival Jenang Solo diadakan untuk memasukan jenang-jenang yang sudah dibuat oleh pendahulu, leluhur kita.

"Bagus Festival ini. Hanya saja perlu pemahaman kepada umum. Ini jenang apa misalnya, ini penjelasannya apa. Modelnya seperti ini," tambah Surojo.

Dengan adanya festival ini, Surojo berharap ini bukan hanya sekadar hiburan masyarakat. Melainkan juga pelestarian warisan budaya.

"Jenang ini adalah mempunyai makna filosofis ke generasi muda. Memberikan edukasi, kepada masyarakat, khususnya Jawa jangan sampai meninggalkan adat. Walau berbentuk jenang, tapi punya makna filosofis. Jadi adat ini doa intinya," jelasnya. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#Jenang #festival