RADARSOLO.COM – Kota Solo genap berusia 280 tahun pada Senin (17/2/2025) kemarin. Perayaan ulang tahun ini dimeriahkan oleh Festival Jenang, sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari perayaan hari jadi Kota Solo.
Di balik kemeriahan ini, ada sejarah panjang dan menarik tentang bagaimana Kota Solo—atau yang lebih dikenal sebagai Surakarta—berdiri.
Bermula dari Desa Sala, Kota Solo Dibangun di Pinggir Sungai Bengawan
Mengutip dari laman solocity.travel, sebelum menjadi kota besar seperti sekarang, Solo dulunya hanyalah sebuah desa kecil bernama Desa Sala yang terletak di pinggiran Sungai Bengawan Solo.
Hingga tahun 1744, Desa Sala masih dikenal sebagai desa terpencil yang tenang, berjarak sekitar 10 kilometer di timur Kartasura, pusat Kerajaan Mataram Islam pada masa itu.
Namun, sebuah peristiwa besar mengubah sejarah Mataram Islam, yang pada akhirnya melahirkan Kota Solo.
Geger Pecinan, Pemberontakan yang Mengubah Peta Kekuasaan Mataram
Pada awal abad ke-18, terjadi peristiwa yang disebut Geger Pecinan, yaitu pemberontakan besar yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa terhadap VOC di Batavia.
Pemberontakan ini kemudian meluas hingga ke berbagai wilayah di Jawa, termasuk Kartasura.
Awalnya, Raja Mataram Pakubuwono II mendukung pemberontakan ini, namun pada akhirnya ia berpihak kepada VOC (Belanda).
Hal ini membuat kaum pemberontak, yang terdiri dari masyarakat Jawa dan Tionghoa, marah dan menganggap Pakubuwono II sebagai pengkhianat.
Dipimpin oleh RM Said (keponakan Pakubuwono II) dan RM Garendi (cucu Amangkurat III), para pemberontak melancarkan serangan besar-besaran ke Keraton Kartasura.
Serangan ini berhasil membobol keraton dan memaksa Pakubuwono II melarikan diri.
Setelah mendapatkan dukungan dari VOC, Pakubuwono II melakukan serangan balik ke Kartasura dan berhasil merebut kembali takhtanya.
Namun, karena kondisi Keraton Kartasura sudah hancur, Pakubuwono II memutuskan untuk mencari lokasi baru untuk membangun pusat pemerintahan yang lebih strategis.
Pakubuwono II akhirnya memilih Desa Sala sebagai lokasi baru keraton dan pusat pemerintahan Mataram Islam.
Pada Rabu, 17 Februari 1745, prosesi perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala dilakukan secara besar-besaran.
Momen ini kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya Kota Solo, yang hingga kini tetap dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Solo Kini: Dari Pusat Kerajaan Mataram ke Kota Budaya
Seiring waktu, Solo berkembang menjadi kota yang kaya akan budaya dan sejarah.
Keraton Surakarta tetap menjadi ikon utama yang menggambarkan kejayaan masa lalu.
Di samping itu, kota ini juga dikenal sebagai pusat batik, kuliner, dan seni pertunjukan Jawa, menjadikannya destinasi wisata budaya yang terkenal hingga ke mancanegara.
Dengan usia 280 tahun, akankah Solo terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya yang kuat? (dam)
Editor : Damianus Bram