RADARSOLO.COM - Sebelum menjadi permukiman para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo, Kampung Kemlayan dulunya masih berwujud rawa-rawa.
Hal ini seperti diungkapkan pemerhati sejarah asal Kota Solo Dani Saptoni.
Dani mengaku pernah membaca sejumlah manuskrip yang menulis tentang Kampung Kemlayan.
Di antaranya Babat Giyanti dan Radyalaksono.
Di dalamnya menulis bahwa sebelum menjadi hunian warga, dulunya Kemlayan sebuah tempat lapang yang berwujud rawa-rawa.
“Kemudian ada beberapa pemakaman kampung yang cukup besar, dengan pundennya bernama Mbah Berak. Makamnya sekarang masih ada, namun tersembuyi di salah satu bangunan homestay," ungkap Dani.
Namun demikian, lanjut dia, sampai sekarang belum ada literasi soal sosok Mbah Berak.
Menurut saya, Berak itu artinya tempat yang luas,” ucap dia.
Dani menambahkan, banyak mitos yang mengiringi makam Mbah Berak.
Salah satunya kisah yang dialami dalang kondang almarhum Blacius Sobono.
Ceritanya, Blacius pernah memotret makam Mbah Berak.
Ketika foto dicetak, citra gambar yang keluar motif batik Nogogini.
Motif naga besar yang melingkar di atas makam Mbah Berak.
“Punden makam Mbah Berak juga dipercaya ada kaitannya dengan sumur Besalen. Tempat para seniman membuat gong,” beber Dani.
Diketahui, di Kemlayan juga terdapat langgar yang dibangun Pakubuwono (PB) IV.
Raja Keraton Solo itu dikenal sebagai pujangga dan sangat mencintai kesenian.
“Jadi, langgar di sana ditandai dengan sebuah ornamen berciri Hindu. Ada juga dua patung ponyet di simpang tiga Kampung Kemlayan,” tuturnya.
Paku Buwono IV pula yang kemudian dipercaya sebagai sosok pencetus pembangunan Kampung Kemlayan, sebagai hunian para abdi dalem bidang kesenian.
“Sesuai cerita Babat Giyanti, era Paku Buwono II dan III ada pasukan Mangkubumi yang menyerang Surakarta dari arah barat. Sampai di Kemlayan masih berupa rawa dan pemakaman,” urai Dani.
Dani juga mengakui, Kampung Kemlayan merupakan hunian para seniman. Terutama seni tari dan karawitan.
“Banyak empu yang lahir di sana. Termasuk ada bekas Besalen atau pabrik pembuatan gong. Tak heran kalau banyak warga asli Kemlayan punya gelar Mlaya atau abdi dalem di bidang seni,” katanya.
Harus diakui, para pengrawit sekarang bisa mengenal notasi karawitan berkat jasa para empu dari Kemlayan.
“Sehingga banyak seni tradisi yang masih dilestarikan sampai sekarang. Lahirnya ya dari Kemlayan,” ujarnya.
Disinggung jejak sejarah kesenian di Kemlayan, Dani menyebut masih banyak betebaran. Ambil contoh rumah para empu seni dan bekas Besalen.
Namun, sudah banyak perubahan yang terjadi di sana. Baik dari sisi struktur hunian hingga mata pencaharian warganya.
Ini terjadi setelah berdirinya pusat perbelanjaan di era 60-an.
“Sekarang warga Kemlayan yang masih intens di kesenian tinggal beberapa. Tidak sebanyak dulu,” jelasnya.
Beruntung, Pemkot Solo tidak tinggal diam.
Kampung Kemlayan di-branding sebagai pusat kreativitas warga Kota Bengawan.
“Karena di Kemlayan masih banyak tokoh, tempat, dan literasi sejarah yang bisa dimanfaatkan. Dijadikan acuan untuk membangkitakan lagi spirit seni. Simbol ini perlu dimunculkan sebagai sumber penghasilan warga. Ada ilmu yang tidak terputus dari sejarah sebuah perkampungan,” tandas Dani. (atn/fer)
Editor : Syahaamah Fikria