RADARSOLO.COM-Perkembangan industri musik saat ini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi digital.
Salah satu wujud nyata transformasi itu terlihat dalam fenomena home recording, di mana musisi kini bisa memproduksi musik secara mandiri dari rumah, tanpa harus bergantung pada studio profesional.
Dosen Teknologi Audio ISI Surakarta Iwan Budisantoso menyebut, tren home recording tak lepas dari perkembangan teknologi audio yang semakin maju dan mudah diakses.
"Industri musik saat ini memang sangat terbuka dan berkembang pesat. Kini, siapa saja yang menguasai komputer bisa membuat karya secara digital. Ini bermula sejak era 2000-an ketika industri mulai beralih dari sistem analog ke digital," ujar Iwan kepada radarsolo.com.
Dari Analog ke Digital: Musik Jadi Lebih Terjangkau
Iwan menjelaskan bahwa dulu, industri musik Indonesia sangat bergantung pada sistem perekaman analog yang membutuhkan perangkat besar dan mahal.
Musisi harus datang ke studio profesional, yang tentu berkonsekuensi pada biaya tinggi dan keterbatasan kreativitas.
Namun, sejak masuknya teknologi digital pada awal 2000-an, proses penciptaan dan rekaman musik menjadi jauh lebih efisien.
"Musisi kini bisa bekerja di rumah dan membuat aransemen musik sendiri berkat adanya teknologi virtual instrument. Hanya dalam beberapa klik, mereka bisa menyusun komposisi musik, tanpa harus selalu melibatkan musisi lain," jelas Iwan.
DAW dan Audio Interface, Pilar Home Recording
Menurut Iwan, salah satu elemen penting dalam perubahan ini adalah kemunculan DAW (Digital Audio Workstation) seperti ProTools dan Q-bis, yang kini berkembang menjadi software populer seperti Logic Pro, Cubase, hingga Ableton Live.
"Dengan harga yang makin terjangkau, hampir siapa saja bisa memiliki studio rekaman sendiri di rumah," ujarnya.
Baca Juga: Mainan Buatan Pasutri Sukoharjo Ini Bantu Anak Belajar, Siap Go Internasional
Tak hanya dari sisi software, hardware seperti audio interface juga turut memudahkan proses rekaman.
Dengan alat seharga Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta, musisi bisa menghubungkan mikrofon ke komputer dan menghasilkan rekaman suara dengan kualitas yang layak.
"Dulu butuh mixer besar dan pemutar pita. Sekarang cukup dengan komputer dan audio interface, semuanya jadi lebih efisien," ungkapnya.
Kualitas Suara Digital vs Analog
Meski praktis, Iwan mengakui bahwa sistem digital membawa perbedaan pada kualitas suara dibanding analog.
Sistem analog bekerja dengan proses kelistrikan murni, sementara digital menggunakan proses kompresi suara yang memengaruhi bentuk gelombang suara.
"Digital punya ‘anak tangga’ yang lebih besar, kadang membuat suara jadi tipis atau terdengar seperti robot," terangnya.
Namun dengan pemilihan sample rate tinggi, seperti 96 kHz atau 192 kHz, musisi tetap bisa menghasilkan kualitas suara mendekati analog.
"Proses mastering masih ideal dilakukan di studio besar, tapi banyak proyek rekaman kini bisa selesai hanya dari rumah," tambahnya.
Teknologi Bukan Segalanya, Skill Tetap Kunci
Meski teknologi makin canggih dan terjangkau, Iwan menekankan pentingnya penguasaan teknis bagi musisi.
"Musisi harus menguasai elemen bunyi dan tahu cara menangani alat-alat rekaman. Kalau tidak, hasil mixing dan rekamannya tetap tidak akan bagus meskipun lagunya bagus," ucapnya.
Menurutnya, seorang musisi sekaligus harus mampu menjalankan peran teknisi.
Baca Juga: Pertunjukan sang Penggali Timah, Potret Harapan dan Keserakahan Manusia Mengeksploitasi Lingkungan
"Ada peran sebagai musisi, dan ada peran teknisi. Teknisi artinya menguasai teknologi rekaman, tapi juga harus paham karakter instrumen yang digarap," tegasnya.
Iwan optimis bahwa tren home recording akan terus berkembang, termasuk di Solo.
Ia berharap para musisi bisa mengintegrasikan pengetahuan musik dan teknologi secara seimbang untuk menghasilkan karya-karya berkualitas. (ul/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono