Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Beragam Sentra UMKM Kebanggaan Kota Solo, Lahir dari Kampung hingga Kelurahan: Terus Berkembang dengan Swadaya

Antonius Christian • Senin, 31 Maret 2025 | 20:10 WIB

 

Sentra UMKM kuliner di Taman Cerdas Gilingan yang dikelola paguyuban pedagang warga setempat tampak ramai pembeli.
Sentra UMKM kuliner di Taman Cerdas Gilingan yang dikelola paguyuban pedagang warga setempat tampak ramai pembeli.

RADARSOLO.COM - Guna meningkatkan perekonomian masyarakat, sejumlah kampung di Kota Solo mendirikan sentra-sentra UMKM. Kebanyakan merupakan binaan dari keluranan di Kota Bengawan.

Namun tidak sedikit yang muncul karena hasil swadaya dari masyarakat secara mandiri.

Sentra Kuliner Paguyuban Pegadang Gilingan Rumekso (Padang ing Roso) salah satunya.

Berlokasi di Taman Cerdas Gilingan, sentra ini mampu mengubah taraf hidup masyarakatnya.

Lokasinya yang tak jauh dari area wisata Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, membuat sentra UMKM ini menjadi jujukan para wisatawan yang berkunjung ke tempat ibadah hasil hibah dari Uni Emirad Arab (UEA) ini.

Sektretaris Paguyuban Pegadang Gilingan Rumekso Deni Setiowati mengungkapkan, setiap pekannya, sentra ini buka pada Jumat sampai Minggu mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.

"Ya, yang namanya jualan, kadang ramai kadang juga sepi. Mungkin karena lokasinya yang masuk ke dalam gang," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Deni, hal tersebut tidak meyurutkan semangat para pedagang untuk berjualan.

Rata-rata jenis dagangan yang dijual adalah makanan rumahan.

Soal harga, cukup ramah di kantong. Apalagi untuk para wisatawan.

"Sejauh ini ada 21 pedagang, perwakilan dari 21 RW di kelurahan. Kalau dari paguyuban tidak ada pembinaan khusus, hanya saja kita biasanya kumpul setiap sebulan sekali," ucap dia.

"Ya, sekadar evaluasi, sharing mungkin bagaimana caranya agar sentra tetap ramai, atau kebutuhan apa. Ramainya sendiri setiap malam minggu," lanjut Deni.

Lurah Gilingan Priadi menjelaskan, sentra kuliner ini berdiri sejak akhir 2022 lalu.

Bermula dari program Kecamatan Banjarsari dalam meningkatkan perekomian masyarkat dengan membuat sentra UMKM, khususnya kuliner.

"Jadi diwajibkan setiap kelurahan ada sentra kuliner. Jadi Desember 2022 itu kami canangkan sebagai pendirian sentra ini. Jadi 21 RW kami kerahkan, Alhamdullilah bisa berjalan sampai dengan sekarang. Bisa mempberi wadah, terutama bagi ibu-ibu,” papar dia.

Dijelaskan Priadi, memang ada pasang surut dalam perjalanan sentra UMKM ini kampung ini.

"Karena kami ini tarafnya masih belajar juga, apalagi para pedagang ini selama ini hanya orang rumahan, yang kemudian diberi wadah untuk berjualan," kata Priadi.

Priadi memaparkan, para pedagang sendiri tidak ditariki retribusi.

Sebab, semangat dari pemerintah murni untuk memberdayakan masyarkat.

"Kami pilih lokasi di sana juga karena dekat dengan Masjid Raya Sheikh Zayed, sehingga harapanya bisa menunjang salah satu lokasi wisata di Solo,” bebernya.

Di sisi lain, masyarakat RW 12 Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari merintis sentra UMKM secara swadaya.

Warga berdikari dengan membuat selter yang mereka beri nama Kembul Swarga. Lokasnya di bahu jalan Banyuanyar Selatan.

Ketua Paguyuban Kembul Swarga, Moch Shoddiq menuturkan, selter ini terwujud setelah adanya keprihatinan dari masyarakat terkait kondisi ekonomi masyarakat.

Dia yang juga menjabat sebagai ketua RW setempat bersama warga lantas mencari solusi untuk memanggulangi keluhan warga ini.

"Untuk usaha ini kami mulai pada 2018 silam. Tapi sempat berhenti pada 2020 karena pandemi Covid-19 itu. Pada 2022 akhir itu baru kami mulai lagi setelah ada sejumlah kelonggaran yang diberikan pemerintah,” ungkapnya.

Dijelaskan Shoddiq, langkah awal yang dilakukan warga itu adalah membersihkan kawasan yang akan didirikan selter.

Kawasan ini sebelumnya banyak ditumbuhi rumput liar. Hingga akhirnya dibersihkan warga dan dibangun selter.

"Waktu itu tenda yang digunakan kami masih sewa. Jadi nanti sore dipasang, kemudian malam setelah selesai dibongkar, berjalan seperti itu terus,” ungkapnya.

"Hingga kemudian kami mendapat bantuan dari CSR, disewakan tenda selama enam bulan. Ya Alhamdulillah, jadi uang operasional paguyuban bisa digunakan untuk hal lain. Hingga akhirnya kami bisa beli tendanya,” ungkapnya.

Shoddiq menuturkan, paguyuban tidak hanya menyediakan tempat, namun juga memberikan modal awal bagi masyarakat hingga pelatihan berjualan.

Hal ini dilakukan agar antara satu warga dengan warga yang lain bisa menjual produk yang beragam.

Hingga saat ini, kawasan selter ini tidak hanya berjualan malam hari. Namun, ada juga yang berjualan pada pagi hari.

Apakah ada perhatian dari pemerintah setempat untuk modal?

Pria itu mengatakan belum pernah.

Padahal. setiap permintaan bantuan modal kerap diusulkan saat musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) digelar kelurahan maupun kecamatan setempat.

"Cuma tidak tahu kenapa tidak pernah mendapat,” ungkapnya.

Untuk itu, Shoddiq berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah setempat sehingga bisa menjadikan modal tambahan kepada para pedagang. (atn/adi)

Editor : Syahaamah Fikria
#UMKM kuliner #wisatawan #solo #Swadaya #umkm #Masjid Raya Sheikh Zayed