RADARSOLO.COM – Kepadatanan lalu lintas sepanjang Lebaran 2025 mengalami penyusutan jika dibandingkan dengan data serupa pada periode sebelumnya.
Penurunan kepadatan ini diduga terjadi akibat beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya penurutan mobilitas masyarakat selama momentum Idul Fitri berlangsung.
Ketua Masa Angkutan Lebaran Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surakarta, Yulianto membenarkan bahwa pergerakan kendaraan bermotor selama momentum Lebaran 2025 mengalami penyusutan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Berdasarkan data traffic count yang dilakukan di tujuh titik pintu masuk Kota Solo, penurunan mobilitas masyarakat selama Lebaran tahun ini itu turun hingga 1,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Hasil rekapitulasi jumlah kendaraan yang melintas dari H-7 sampai dengan H+5 Lebaran 2025 sekitar 7.075.427 kendaraan, turun 1,4 persen (setara 101.582 kendaraan) dari Lebaran 2024 lalu,” kata dia, Senin (7/4/2025).
Hasil rekapituasi dari H-7 sampai dengan H+5 itu diperkirakan akan naik sedikit menimbang pada Senin (7/4) ini atau H+6 Lebaran 2025 arus lalu lintas sudah kembali normal dan akan kembali seperti lalu lintas biasa dalam kota pada H+7 Lebaran esok atau Selasa (8/4/2025).
Oleh sebab itu dalam waktu dekat, seluruh kegiatan dan aktivitas pengamanan-pengawasan selama Masa Angkutan Lebaran akan segera ditarik karena akan segera memasuki aktivitas normal.
“Sejauh ini rekapitulasinya secara total, jadi pergerakan yang masuk di pendataan kita itu baik kendaraan yang melintas di dalam kota, pergerakan aglomerasi, atau lintas provinsi saat mudik dan balik. Dan pada hari ini pergerakan di objek wisata maupun di jalur lintas juga sudah kembali normal. Kalau penurunan mobilitas masyarakat selama Lebaran ini ya tentunya dipengaruhi karena peristiwa-peristiwa sebelumnya,” hemat Yulianto.
Menyikapi penurunan pergerakan masyarakat selama Lebaran 2025, Wakil Keta Perberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai penurunan pergerakan masyarakat yang terjadi hampir disemua wilayah di Indonesia itu merupakan peristiwa sebab akibat akan peristiwa-peristiwa yang ada sebelumnya.
Dirinya berpandangan hal ini memiliki pengaruh besar dari kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah yang kemudian memberi dampak pada penurunan daya beli, fenomena PHK dan lain sebagainya.
“Ini terjadi karena peristiwa-peristiwa sebelumnya. Akibatnya banyak masyarakat yang menunda untuk pulang kampung dan bertemu dengan keluarga karena alasan ekonomi. Dampaknya perputaran uang di daerah juga akan menurun kalau pergerakan orang saat mudik juga berkurang,” hemat dia.
Dosen Teknik Sipil Universitas Soegijapranata Semarang itu mewanti-wanti agar pemerintah lebih bijak dalam melihat fenomena ini.
Efek dari penghematan anggaran yang tidak tepat tentu akan mempersulit warga ditengah fenomena PKH, pembatasan kegiatan, dan lain sebagainya.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, efek yang sudah terlihat sejak awal 2025 dan berlanjut hingga Lebaran 2025 akan terus berlanjut hingga masa-masa kedepan.
“Di luar fenomena yang terjadi saat Lebaran ini, kedepan harus ada antisipasi. Salah satu kuncinya ada di penyediaan transportasi publik yang baik, nah kalau tetap dipangkas anggarannya seperti saat ini masyarakat jadi tidak punya alat transportasi yang baik untuk membantu mereka melakukan mobilitas. Pemangkasan anggaran di sektor transportasi ini dampaknya tidak akan seketika terasa, namun jika dibiarkan lama kelamaan akan sangat berpengaruh di kehidupan masyarakat,” tegas Djoko. (ves)
Editor : Damianus Bram