RADARSOLO.COM-Di balik gemerlap panggung Wayang Orang Sriwedari, tersimpan sentuhan tangan-tangan ajaib.
Tak hanya lihai menari dan berakting, para pemeran juga piawai merias wajah mereka sendiri. Menghadirkan karakter yang hidup dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Riasan merupakan salah satu bagian krusial dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.
Tegas lembutnya bubuhan di wajah mampu memberikan kesan pendukung tersendiri bagi masing-masing karakter.
Ini dijelaskan oleh salah satu orang yang dulunya pemain Wayang Orang Sriwedari, Harsini.
"Riasan karakter gagah, garang, dan juga komedi pastinya berbeda. Memang riasan make-up ini harus sesuai karakter masing-masing," sebut wanita yang kini menjadi sutradara Wayang Orang Sriwedari itu kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (25/4).
Ambil contoh, riasan Rahwana. Karakter antagonis yang melegenda dalam kisah Ramayana ini tak hanya harus tampil sangar lewat sorot mata dan gerak tubuh.
Tapi juga melalui guratan wajah yang kuat dan dramatis. Warna merah pekat biasanya menjadi alas dari make-up Rahwana. Disertai taring di sekitar bibirnya.
"Berbeda lagi kalau karakter komedi. Untuk riasan komedi, biasanya agak nyeleneh. Biasanya pakai alas bedak warna putih. Namun, komedi kan harus lucu. Jadi dibuat sedemikian dengan coretan coretan yang lucu. Dan itu sudah ada patokannya," ucap Harsini.
Karakter komedi cenderung mengarah pada Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Harsini menyebutkan, keempat lakon tersebut memiliki ciri khas tersendiri pada riasannya. Khususnya bagian mata.
"Semar itu kan matanya lendes, kalau Gareng itu matanya kero. Sementara Bagong, matanya gede gede (besar-besar). Kalau Petruk itu kebanyakan serba panjang," sebut Harsini.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Sosok Harsini, Perempuan di Balik Napas Panjang Wayang Orang Sriwedari Solo
Berbeda lagi dengan sentuhan make-up. lakon putri yang biasanya mengenakan riasan halus.
Sapuan bedak, alis yang digambar dengan lembut, serta bibir yang dipulas merah muda atau merah marun menciptakan kesan anggun dan lembut.
"Namun ada juga putri yang menggunakan make-up raksasa, jika dia perannya seorang raksasa," tutur Harsini.
Harsini menyebutkan, proses merias wajah bagi para lakon biasanya memakan waktu tak lebih dari setengah jam.
Dalam kurun waktu singkat itu, wajah-wajah para penari berubah menjadi sosok-sosok legendaris pewayangan.
Namun, bagaimana dengan teknik riasan Wayang Orang Sriwedari sekarang ini? Apakah masih sama seperti di masa lampau?
"Sejatinya tetap sama. Hanya saja, dahulu para lakon otodidak. Sementara sekarang mendapatkan pelajaran dari sekolah. Jadi mungkin teknik-teknik agak berbeda. Tapi sebenarnya sama," ucap Harsini.
Ke depan, Harsini berharap make-up Wayang Orang Sriwedari semakin dipertegas. Demi menghidupkan karakter-karakter yang merasuk ke tubuh para seniman.
"Karena terkadang, sesama make-up putri itu disamakan. Sebenarnya ada yang membedakan, biasanya dari bentuk alis," pungkasnya. (nis/nik)
Editor : Tri wahyu Cahyono