RADARSOLO.COM - Gelak tawa para penonton menggema di Gedung Wayang Sriwedari malam itu.
Bukan tanpa sebab, aksi kocak Punakawan di atas panggung sukses menggelitik perut ratusan pasang mata.
Didukung dengan tingkah polah, celetukan spontan, hingga mimik lugu yang jenaka. Di balik banyolan itu, ada pesan yang jauh lebih mendalam.
Sosok Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong bukan sekadar pelawak di panggung pewayangan.
Mereka adalah Punakawan, tokoh pemomong yang bertugas membimbing, menasehati, dan mengingatkan para kesatria dalam lakon.
“Di pewayangan, Punakawan dimunculkan untuk menghibur. Namun, sejatinya mereka adalah pemomong. Sosok yang momong kesatria berwatak luhur atau orang-orang yang berperilaku baik,” sebut salah satu sutradara Wayang Orang Sriwedari, Harsini kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Perang Epik yang Mengubah Takdir Para Pandawa, Wayang Orang Sriwedari Usung Lakon Dewa Amral
Masing-masing tokoh dalam Punakawan mempunyai filosofi mendalam. Tak sekadar pelengkap lakon, keempatnya menyampaikan nilai-nilai luhur kehidupan lewat bentuk fisik dan perilaku mereka yang khas. Ambil contoh Semar, sosok tertua sekaligus pemimpin Punakawan.
“Semar sering disebut tokoh suci, karena Semar sendiri tidak pernah mempunyai niat jahat. Tidak pernah mempunyai rasa iri dengki,” papar Harsini.
Semar, selalu digambarkan membungkuk saat berjalan. Sebuah laku sederhana yang menyiratkan ajaran luhur, ngajeni atau menghormati siapa pun tanpa memandang derajat. Tangannya yang terangkat ke langit pun bukan tanpa maksud.
Di situ tersimpan pesan, bahwa manusia tak pernah lepas dari permohonan petunjuk kepada Sang Pencipta.
“Sementara Gareng hadir dengan ragam keunikan fisiknya, tangannya tengklek, jalannya jinjit, matanya tidak sinkron. Menyimpan filosofi agar manusia jangan memandang rendah kepada sesama. Kemudian tangannya pengingat agar tak ringan tangan berbuat buruk. Lalu, kenapa kakinya jinjit? karena ketika manusia itu harus berhati-hati saat melangkahkan kaki atau niat,” jelas Harsini.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Sosok Harsini, Perempuan di Balik Napas Panjang Wayang Orang Sriwedari Solo
Selanjutnya Petruk. Dengan tubuh jangkung dan jarinya yang nduding atau selalu mengarah seperti menunjukkan jalan. Tak lain, Petruk adalah penggambaran ajaran untuk senantiasa menunjuk pada kebenaran.
“Di belakang, ada Bagong. Gambaran dari bayang-bayang Semar. Selalu mengikuti apa yang diperintahkan untuk selalu berbuat kejujuran, kebaikan, dan lain sebagainya,” lanjut mantan pemain wayang itu.
Sajian guyonan Punakawan tidak terlalu berbeda, baik dahulu ataupun sekarang. Hanya saja, lelucon punakawan sekarang memang lebih kontekstual. Membawa isu-isu kekinian, menyelipkan lelucon khas generasi kini hingga sindiran sosial yang relevan dengan zaman.
“Sebenarnya sama saja (dengan dahulu), cuma untuk zaman sekarang guyonanya agak modern karena mengikuti perkembangan zaman,” ucap Harsini.
Kendati demikian, tidak semua lakon wayang menghadirkan Punakawan. Meski terbilang sering, mereka bukan karakter wajib yang harus selalu muncul dalam cerita.
“Belum tentu Punakawan selalu hadir disetiap cerita Wayang. Kadang tergantung dari cerita itu sendiri. Lebih seringnya ada, karena hanya cerita tertentu yang tidak menghadirkan tokoh Punakawan. Contohnya yakni cerita sebelum terjadinya Punakawan,” imbuh Harsini. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy