Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Keroyokan Cerdas Atasi Stunting di Solo: Baby Spa Gratis Hingga Posyandu Plus Sukses Turunkan Kasus, Wujudkan Generasi Emas

Silvester Kurniawan • Jumat, 6 Juni 2025 | 05:23 WIB
Pelayanan baby spa gratis untuk tangani stunting di Kota Solo.
Pelayanan baby spa gratis untuk tangani stunting di Kota Solo.

RADARSOLO.COM – Meski tergolong sebagai penyakit tidak menular, stunting jadi perhatian besar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Penanganan stunting dilakukan dengan model keroyokan dari berbagai kedinasan hingga kolaborasi bersama masyarakat, demi menghasilkan generasi emas di masa mendatang.

Ya, penanganan stunting di Kota Solo mendapatkan porsi besar, dibutikan lewat kebijakan yang diambil pimpinan daerah.

Berbagai program yang dipandang dapat memaksimalkan intervensi kasus stunting, terus digulirkan di Kota Bengawan.

Dampaknya pun terlihat jelas. Angka stunting turun sebanyak 400-an kasus, dari 1.543 kasus di awal tahun 2024 menjadi 1.100 kasus pada awal 2025.

“Semua OPD (organisasi perangkat daerah) yang beririsan punya program memaksimalkan penanganan stunting di Kota Solo. Hasilnya kasus stunting di awal tahun ini mengalami penurunan. Ini akan kami maksimalkan sembari memastikan tidak ada kasus stunting baru,” beber Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Solo, Purwanti, Rabu (4/6/2025).

Bayi Stunting Dapat Layanan Baby Spa Gratis

Keberhasilan penanganan stunting dimulai dari penerapan program Baby SPA di Kecamatan Banjarsari sejak Desembar 2023 lalu.

Program yang mulanya hanya diberlakukan di Banjarsari itu, akhirnya diadopsi oleh lima kecamatan lain di Solo.

Kini, baby spa gratis yang mulai berlaku serentak pada akhir 2024 itu pun banyak dimanfaatkan masyarakat.

Radarsolo.com sempat melihat langsung pelayanan baby spa yang beralamat di di Kampung Gebang RT 05 RW 15 Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Banjarsari, Solo, beberapa waktu lalu.

Saat itu, Danlei Abista Dewantoro, 2, mendapatkan perawatan khusus untuk meningkatkan kesehatan lantaran tinggi dan berat badan tidak lumarah untuk anak seusianya.

Buah hati pasangan Tri Noviasari dan Dimas Purba Dewantoro itu berat badannya bertahan di angka 8 kilogram. Sedangkan umumnya anak usia itu beratnya sudah mencapai 10 kilogram.

“Treatment kedua ini berendam di air hangat dengan rendaman kayu secang. Kemudian dimandikan hingga bersih dan dipijat," tutur ibunda Danlei, Tri.

Setelah dua treatment, diakui Tri, ada perkembangan berat dan tinggi badan sang anak.

"Anak saya tambah (tingginya sudah 81 cm). Ini gratis, dapat voucher dari kecamatan,” terang dia.

Terapis Baby and Mom Treatment, Ita Arleny menerangkan, layanan itu merupakan kerja sama dengan Kecamatan Banjarsari.

Mereka dituntut profesional dalam setiap penanganan dengan melakukan anamnesis (wawancara medis yang dilakukan sebelum treatment diakukan) dan pencatatan perkembangan secara berkala.

Pelayanan yang diberikan pun merujuk pada anamnesis yang dilakukan. Keculai untuk pasien-pasien dengan penyakit khusus seperti TB (tuberculosis) dan penyekit menular lain, tidak akan dilayani.

“Setiap peserta dapat lima kali voucher. Setiap datang bisa mendapat 1 jam pelayanan dengan baby gym, baby swim, baby bath, dan baby massage," tutur Ita.

Menurut dia, terapi dengan baby spa seperti ini sebaiknya dilakukan 2 pekan sekali.

Namun khusus kasus stunting, harus disesuaikan dengan kondisi anak.

"Semua perkembangannya ini kami catat mulai dari mereka datang hingga pasca terapi. Kalau semua tahapan dilakukan dengan baik pasti ada perkembangannya,” papar Ita.

Subsidi Silang

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani mengecek kondisi anak di Solo, dalam program Posyandu Plus.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani mengecek kondisi anak di Solo, dalam program Posyandu Plus.

Baby spa yang dijalani putra pasangan Tri Noviasari dan Dimas Purba Dewantoro itu merupakan progam asli Kecamatan Banjarsari yang diberi nama Mitingsri (Mijet Stunting Kecamatan Banjarsari).

Program yang diawali dengan subsidi silang dari warga setempat untuk membantu biaya perawatan bayi stunting itu disambut baik oleh para pengusaha baby spa di wilayah setempat.

Hal tu akirnya mendorong pihak kecamatan kala itu meluncurkan program yang kini diadopsi di seluruh wilayah Kota Solo.

“Semua terlibat di program ini, dari pengusaha baby spa beri potongan harga 50 persen, dari warga patungan Rp 1.000c- Rp 2.000 sampai bisa seperti ini," terang Camat Banjarsari, Beni Supartono.

"Alhamdulillah karena dianggap berhasil akhirnya diadopsi di semua kecamatan di Solo,” imbuh dia.

Munculnya Partisipasi Warga Lewat Dapur Sehat Hingga Posyandu Plus

Bersamaan dengan layanan baby pa untuk bayi stunting, sejumlah program pendukung ikut bermunculan.

Di antaranya Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat) yang diterapkan di seluruh kelurahan dan digerakkan oleh ibu-ibu di kampung setempat.

Kegiatan itu akhirnya dikuatkan dengan kemunculan Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting) yang memaksimalkan penguatan layanan baby spa dan Dahsat dengan pendanaan dari swasta maupun pemerintah pusat.

Tak cukup di situ, kemudian dilakukan transformasi layanan 629 posyandu di Solo, yang belakangan dikenal dengan istilah Posyandu Plus.

Dalam Posyandu Plus, seluruh layanan posyandu yang sebelumnya terbagi menjadi tiga layanan (bayi, remaja, dan lansia), kini dirangkum menjadi satu.

Plus ditambah dengan integrasi layanan, lain termasuk konsultasi dan konseling untuk kesehatan mental.

“Hasil pengecekan di lapangan, kami menemukan stunting itu bisa terjadi karena berbagai faktor," ucap Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, yang juga Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting Kota Solo.

Berbagai faktor itu mulai dari pemahaman yang kurang dan hamil di usia masih dini.

Di kasus lainnya disebabkan asupan gizi kurang, karena latar belakang keluarga yang hidup dalam kemiskinan.

Kemudian, ada faktor lingkungan yang kurang mendukung, seperti permukiman kumuh dan faktor genetik.

"Itu semua harus diselesaikan dengan pendekatan kasuistik,” kata Astrid.

Bagi Pemkot Solo, meneruskan program yang sudah ada dan meningkatkan layanan posyandu, diharapkan bisa memberikan hasil lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, keberhasilan pemerintah tidak akan tercapai tanpa melibatkan komunitas dan sosial masyarakat di wilayah setempat.

Sebab, tanpa pelibatan masyarakat, antisipasi dan penanganan kasus tidak akan dapat diberikan dengan optimal.

“Selain layanan kesehatan fisik dan konseling kesehatan mental, Posyandu Plus juga bisa menjadi pusat pelayanan terpadu, meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, ketertiban umum, perumahan, dan sosial," beber Wali Kota Solo Respati Ardi.

Bahkan, lanjut dia, juga terbuka untuk pengabdian mahasiswa, pemuda setempat, warga lokal dan sebagainya.

"Jadi ini contoh pelayanan publik berbasis komunitas yang inklusif dan partisipatif,” tandas wali kota. (ves/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#generasi emas #stunting #komunitas #baby spa #Layanan Kesehatan #Penanganan Stunting #pemkot solo #Posyandu plus #inklusif