Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Grebeg Besar Keraton Solo 2025, Ini Makna Filosofi Gunungan Jalu dan Walestri yang Bikin Warga Rebutan Demi Raih Berkah

Antonius Christian • Minggu, 8 Juni 2025 | 03:19 WIB

 

Warga berebut Gunungan Walestri dalam tradisi Gerebeg Besar yang digelar Keraton Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo), Sabtu (7/6/2025).
Warga berebut Gunungan Walestri dalam tradisi Gerebeg Besar yang digelar Keraton Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo), Sabtu (7/6/2025).

RADARSOLO.COM - Tradisi Grebeg Besar tahunan Keraton Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) kembali memukau masyarakat pada Sabtu pagi (7/6/2025), bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Ratusan warga dari berbagai penjuru Kota Solo memadati jalur arak-arakan untuk menyaksikan dua gunungan diarak dari dalam keraton menuju Masjid Agung Surakarta.

Dua gunungan sakral, yaitu Gunungan Jalu dan Gunungan Walestri, dikawal ketat oleh pasukan prajurit Keraton Solo, lengkap dengan atribut tradisional.

Arak-arakan dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dari kompleks Keraton Solo dan berakhir di pelataran Masjid Agung Surakarta.

Suasana religius dan khidmat menyelimuti ketika gunungan-gunungan tersebut tiba, disusul dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh ulama dan tokoh masyarakat.

Usai prosesi doa, Gunungan Jalu yang sarat aneka bahan pokok seperti beras, cabai, kacang panjang, jagung, dan hasil bumi lainnya, langsung menjadi rebutan warga.

Hanya dalam hitungan menit, seluruh isi gunungan ludes tak tersisa, menandakan antusiasme tinggi masyarakat yang percaya akan berkah gunungan.

"Saya senang sekali bisa ikut berebut isi gunungan. Dapat kacang panjang. Kata orang tua dulu, siapa yang mendapat bagian dari gunungan, maka akan dapat berkah. Semoga keluarga saya diberi rezeki lancar dan sehat selalu," kata Siti Rohmawati, 42, salah seorang warga yang berhasil mendapat bagian.

Senada dengan itu, Wahyudi, 35, warga asal Klaten, rela datang sejak pagi demi mendapat posisi strategis.

"Saya yakin ini berkah. Kita rebutan bukan untuk serakah, tapi untuk ngalap berkah. Saya dapat sedikit beras dan cabai, insyaallah ini jadi doa untuk keluarga saya," ungkapnya.

Makna Filosofis Gunungan dalam Grebeg Besar

Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Muhammad Muhtarom menjelaskan, tradisi Grebeg Besar merupakan salah satu dari tiga grebeg utama yang digelar setiap tahun oleh Keraton Solo.

Grebeg ini meliputi Grebeg Maulud (Sekaten), Grebeg Pasa, dan Grebeg Besar.

Tahun ini, pelaksanaannya istimewa karena bertepatan dengan 10 Dzulhijjah atau Idul Adha.

“Gerebeg ini adalah bentuk sedekah keraton kepada rakyat dan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan keselamatan, hidayah, dan maunah," tutur dia.

"Jadi Islam Jawa itu dasarnya sedekah, selamatan, mulai kita lahir sampai mati, bentuk doa kita, rasa syukur. Budaya yang dikemas dalam nilai-nilai Islami. Karena selamatan ini bentuk sedekah, maka rezeki akan dilipatgandakan," imbuh Muhtaron.

Dengan penyelenggaraan tradisi ini, diharapkan keraton jauh dari hal-hal negatif. Jauh dari permusuhan, dan dijauhkan dari pertikaian.

"Kondisi keraton akan semakin baik ke depan," ucap dia.

Lebih lanjut, Muhtarom menuturkan, Gunungan Jalu dan Gunungan Walestri bukan sekadar persembahan, tapi memiliki makna filosofis mendalam.

Gunungan Jalu, yang menjadi rebutan utama, melambangkan laki-laki dan berisi bahan pokok.

Ini sebagai simbol tanggung jawab suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Seorang laki-laki harus bisa menafkahi, memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Gunungan ini melambangkan sumber kehidupan," ujarnya.

Sementara itu, Gunungan Walestri berisi makanan siap saji, seperti jajanan pasar dan hasil olahan dapur.

Gunungan ini merepresentasikan perempuan atau istri yang bertugas mengolah bahan pangan yang diberikan suami menjadi santapan yang bergizi bagi keluarga.

"Dari sini kita belajar bahwa peran suami dan istri saling melengkapi. Berapa pun rezeki yang diperoleh, harus bisa diolah dengan bijak oleh istri agar menjadi berkah," tandas Muhtarom. (atn/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#Grebeg Besar #Masjid Agung Surakarta #idul adha #Keraton Solo #gunungan #keraton kasunanan surakarta