RADARSOLO.COM – Wajah Kota Bengawan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dinilai kalangan legislator masih semrawut akibat menjuntainya kabel-kabel jaringan listrik dan telekomunikasi di udara.
Padahal, kawasan tersebut merupakan etalase utama Kota Solo, yang menjadi poros berbagai kegiatan yang digelar di Kota Bengawan.
Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Solo YF Sukasno mendesak pemkot segera mengambil tindakan konkret dalam menata jaringan kabel tersebut.
Dia menyebut, sudah lebih dari 10 tahun fasilitas ducting atau saluran kabel bawah tanah dibangun di sisi utara Jalan Slamet Riyadi, namun hingga kini belum difungsikan.
“Jalan Slamet Riyadi itu kan kita sudah siapkan ducting dari box cover yang ditanam di sisi jalan. Itu dibangun pada 2015 sampai 2016 dengan anggaran dari APBD yang jumlahnya tidak kecil, sekira Rp 13 miliar lebih. Tapi sampai hari ini, belum pernah dimanfaatkan,” ungkap Sukasno, Selasa (18/6).
Menurutnya, ducting yang dibangun dengan investasi besar itu seharusnya menjadi solusi jangka panjang dalam menata kabel-kabel milik PLN, Telkom, hingga provider fiber optik.
Namun ironisnya, infrastruktur itu justru dibiarkan terbengkalai tanpa kejelasan pemanfaatan.
“Ini sangat disayangkan. Uang rakyat Rp13 miliar lebih sudah dikeluarkan. Tapi hasilnya tidak ada manfaatnya. Sisi utara Jalan Slamet Riyadi itu, ducting-nya kosong. Kabel tetap dibiarkan menggantung dan merusak pemandangan kota,” tegasnya.
Kondisi semrawut kabel di sepanjang jalur protokol ini juga berdampak pada lingkungan.
Sukasno menilai, keberadaan kabel-kabel tersebut kerap menjadi alasan pohon-pohon peneduh di sepanjang Jalan Slamet Riyadi harus dipangkas bahkan ditebang, demi menghindari gesekan kabel dengan ranting pohon.
“Pohon itu kan harusnya jadi peneduh dan paru-paru kota. Tapi sekarang, karena kabel melintang di mana-mana, pohon dipangkas seenaknya. Akhirnya tidak berfungsi maksimal sebagai penyejuk kota,” ujarnya.
Sukasno menegaskan, penataan kabel di Jalan Slamet Riyadi akan memberikan banyak manfaat.
Selain menjaga estetika kota, hal itu juga bisa meningkatkan keselamatan masyarakat dan meminimalkan risiko gangguan jaringan, apalagi saat cuaca ekstrem.
Sebagai pembanding, Sukasno menyebutkan Jalan Gatot Subroto (Gatsu) yang sudah berhasil dijadikan percontohan penataan kabel.
Di kawasan tersebut, kabel-kabel sudah dipindahkan ke dalam drainase khusus yang dimodifikasi, sehingga tidak tampak menjuntai di udara.
“Gatsu itu sekarang rapi. Drainasenya dipakai juga untuk ducting kabel. Jalan bersih, kabel tidak kelihatan sliweran. Slamet Riyadi yang seharusnya jadi lebih baik justru malah tertinggal,” ungkapnya.
Dia menambahkan, penataan kabel juga bisa memberikan nilai tambah bagi pendapatan asli daerah (PAD). Sebab, pemanfaatan ducting yang merupakan bagian dari aset milik daerah, bisa dikenai retribusi.
“Kalau kabel-kabel itu masuk ke ducting, nanti akan ada retribusi pemanfaatan aset. Ini bisa jadi tambahan PAD, walau menurut saya itu bukan soal utama. Soalnya adalah pemanfaatan fasilitas publik yang sudah dibangun dengan uang rakyat,” tuturnya.
Sebab itu, Fraksi PDIP meminta agar wali kota bersama dinas terkait seperti dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) serta dinas komunikasi dan informatika (diskominfo) segera memanggil seluruh stakeholder terkait, mulai dari PLN, Telkom, provider internet, hingga operator televisi kabel agar memindahkan instalasi kabel ke dalam ducting.
“Semua pihak harus dikumpulkan. Tidak bisa nunggu masing-masing sadar sendiri. Harus ada instruksi tegas dari wali kota. Kalau perlu, buat regulasi atau perwali (peraturan wali kota) agar semua kabel wajib masuk ducting,” imbuhnya.
Dia pun berharap keseriusan pemkot dalam menjadikan Jalan Slamet Riyadi sebagai jalan utama yang bersih, rapi, dan modern tidak hanya menjadi wacana. (atn/bun)
Editor : Niko auglandy