Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari Alami Berbagai Bentuk Adaptasi

Mannisa Elfira • Minggu, 22 Juni 2025 | 20:05 WIB
DRAMATIS: Pementasan Wayang Orang Sriwedari yang mengambil lakon Dewi Arimbi, Rabu (26/2).
DRAMATIS: Pementasan Wayang Orang Sriwedari yang mengambil lakon Dewi Arimbi, Rabu (26/2).

RADARSOLO.COM - Dari balik tirai panggung tua itu, semangat Wayang Orang Sriwedari terus menyala.

Berbalut tradisi yang kuat, pertunjukan seni khas Kota Bengawan ini terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Bersama para seniman senior dan dukungan pegiat muda, WOS -singkatannya- terus beradaptasi dengan selera penonton masa kini tanpa kehilangan ruh budayanya.

Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Anies Dyah Oktavianti mengungkapkan, Pertunjukan WOS telah mengalami berbagai bentuk adaptasi.

Dilakukan demi menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman dan selera masyarakat yang terus berkembang.

"Dari sisi cerita, meskipun tetap mengangkat kisah klasik dari epos Mahabharata dan Ramayana, beberapa pertunjukan kini mulai menyisipkan nilai-nilai kontemporer," sebut Anies kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Di Balik Layar Wayang Orang Sriwedari, Seni dan Tradisi yang Terus Berevolusi

Bukan hanya alur cerita, adaptasi juga merembet ke arah penyajian visual.

Termasuk penggunaan teknologi panggung.

Ambil contoh dengan pencahayaan dinamis yang ditunjukan demi menciptakan pengalaman visual yang lebih hidup dan menarik, khususnya bagi penonton muda.

"Durasi pertunjukan pun disesuaikan, jika dahulu berlangsung berjam-jam, kini banyak pertunjukan disajikan secara lebih ringkas, berkisar antara 60 hingga 90 menit, agar lebih sesuai dengan ritme konsumsi hiburan masyarakat saat ini," paparnya.

Selain itu, lanjut Anies, Wayang Orang juga mulai memanfaatkan media sosial dan platform digital sebagai sarana promosi dan distribusi pertunjukan.

Video pertunjukan, cuplikan latihan, serta profil para seniman dibagikan melalui YouTube dan Instagram.

"Dengan itu, WOS akan menjangkau audience lebih luas, termasuk generasi digital dan penonton dari luar daerah," tambah Anies.

Rata-rata 5.000-an pasang mata telah menikmati keindahan panggung dan cerita WOS per bulannya. Bukan berasal dari masyarakat lokal saja, melainkan juga menarik minat para pengunjung dari manca negara.

"Untuk wisatawan asing dari Januari hingga April ini di angka 114 orang," sebut Anies.

Sementara itu, salah satu tugas dan fungsi dari Bidang Seni dan Budaya Disbudpar adalah pelestarian budaya dan kesenian tradisi.

Sebagai perwujudannya, setiap hari Senin hingga Sabtu pukul 20.00, WOS selalu menyajikan pertunjukan dengan lakon yang selalu berganti tiap harinya.

"Bahkan lakon untuk pertunjukan satu bulan sudah disiapkan dan di-publish ke media sosial Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, sebagai upaya menarik penonton yang akan mengagendakan untuk menonton WOS," sebutnya.

WOS sendiri mulai ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2023 silam.

Anies menyebutkan, hal itu turut mendukung pelestarian WOS sebagai sebuah warisan budaya.

"Selain itu, Disbudpar juga aktif melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan pendukung, seperti workshop tata rias wayang, lomba tari srikandi cakil, dan pelatihan seni peran," paparnya.

Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan minat serta kepedulian generasi muda terhadap seni tradisional, sekaligus mendorong regenerasi seniman Wayang Orang Sriwedari.

"Di sisi lain, pemanfaatan media sosial juga menjadi strategi penting. Melalui platform seperti Instagram dan YouTube, informasi mengenai pertunjukan, sejarah, dan aktivitas seni Wayang Orang Sriwedari disebarluaskan secara luas untuk menjangkau audience yang lebih muda dan lebih luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara," tambahnya. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#Lakon #wayang orang sriwedari