RADARSOLO.COM – Malam 1 Suro menjadi waktu yang sakral bagi sebagian masyarakat.
Bukan tanpa alasan. Penetapan 1 Suro berawal dari masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kesultanan Mataram (1613–1645).
Pada tahun 1633 M (atau 1555 Saka), Sultan Agung memadukan kalender Saka (warisan Hindu) dengan kalender Hijriah (Islam) menjadi kalender Jawa.
Langkah ini diambil untuk menyatukan masyarakat Jawa yang terbagi antara kelompok santri dan abangan, serta menghindari perpecahan akibat perbedaan kepercayaan.
Melalui sistem penanggalan baru ini, Sultan Agung juga ingin memperkuat identitas Islam di Tanah Jawa tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Tanggal dimulainya kalender Jawa ditetapkan pada Jumat Legi, bulan Jumadil Akhir, tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.
Peringatan Malam 1 Suro di Solo dan sekitarnya sangat istimewa.
Digelar tradisi yang hanya dilakukan setahun sekali tepatnya di Malam 1 Suro, yakni Kamis (26/6/2025) malam. Apa saja?
1. Kirab Pusaka dan Kebo Bule Keraton Solo
Tradisi sakral ini akan diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta.
Kirab Pusaka akan dimulai tepat pukul 00.00 hingga 03.00.
Adapun rutenya yakni dari Kori Kamandungan Keraton Solo-Alun-alun Utara.
Berlanjut Gladag – Loji Wetan – Pasar Kliwon – Gemblegan – Nonongan – Gladag – kembali ke Keraton Solo.
Kebo Bule Kyai Slamet akan menjadi cucuk lampah (pembuka kirab).
Tahun ini sebanyak 5–7 ekor kerbau telah disiapkan.
Keraton Solo juga menggelar Labuhan Sekawan di empat titik sakral.
Yakni Gunung Lawu, Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Hutan Krendowahono.
Ditutup dengan pentas wayang kulit semalam suntuk.
Baca Juga: Sudah Banyak Nasabah Koperasi Bahana Lintas Nusantara yang Menderita, Ini Progres Laporan ke Polisi
2. Tapa Bisu dan Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran
Tidak hanya Keraton Solo, di hari yang sama, Pura Mangkunegaran juga menggelar tradisi tapa bisu dan kirab pusaka Dalem Mangkunegaran.
Tapa bisu dan Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran digelar Kamis (26/6/2025) sekitar pukul 19.30.
Sebelum dikirab, pusaka Dalem Mangkunegaran dijamas atau dimandikan menggunakan air bunga.
Banyak warga yang berebut air bekas jamasan pusaka yang dianggap membawa berkah.
Setelah dijamas, pusaka Dalem Mangkunegaran dikirab mengelilingi Pura Mangkunegaran.
Selama kirab, peserta tidak diperkenankan untuk berbicara alias tapa bisu.
3. Labuhan Ageng di Pantai Sembukan
Tradisi Labuhan Ageng digelar di Pantai Sembukan Desa/Kecamatan Paranggupito, Wonogiri.
Labuhan Ageng adalah wujud syukur masyarakat Paranggupito atas hasil laut dan hasil bumi yang diberikan.
Labuhan Ageng digelar Kamis (26/6/2025). Diawali gelar budaya pukul 13.00.
Dimeriahkan tari dan karawitan
Dalam tradisi tersebut, dilakukan larung kepala, kaki, dan ekor sapi ke Pantai Sembukan.
4. Tradisi Wahyu Kliyu
Tradisi Wahyu Kliyu yang digelar setiap bulan Suro di Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Wahyu Kliyu berasal dari bahasa Arab Ya Hayyu Ya Qayyumu, mengandung makna mohon kekuatan dan kehidupan kepada Sang Pencipta.
Serta wujud syukur atas nikmat dan keselamatan yang diterima masyarakat.
Tradisi Wahyu Kliyu semula hanya dilaksanakan di Dusun Kendal, yakni Kendal Lor dan Kendal Kidul, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Tradisi ini telah digelar secara turun temurun hinggg beberapa generasi.
5. Sedekah Gunung
Masyarakat Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali tetap menguri-uri sedekah Gunung Merapi.
Yakni mempersembahkan kepala kerbau ke puncak Gunung Merapi.
Tradisi ini digelar hanya di bulan Suro.
Sedekah Gunung Merapi sudah ada sejak zaman nenek moyang. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono