Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kemajuan Keraton Surakarta di Bawah Pimpinan Paku Buwono X Cukup Pesat: Pelestari Seni dan Budaya Jawa yang Membangun Banyak Bangunan Iconik

Niko auglandy • Senin, 23 Juni 2025 | 20:05 WIB
INSPIRATIF: Paku Buwono X saat masih memimpin Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
INSPIRATIF: Paku Buwono X saat masih memimpin Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

RADARSOLO.COM - Kota Bengawan menyimpan banyak sejarah. Salah satu sosok yang kental dengan hikayat Surakarta adalah Sri Susuhunan Paku Buwono X.

Seorang raja visioner yang melakukan sejumlah pembaharuan politik, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan Keraton Kasunanan.

Paku Buwono X lahir pada Kamis Legi, 21 Rejeb 1795 Jawa atau 29 November 1866. Nama kecilnya Raden Mas Sayidin Malikhul Kusna. PB X lahir sebagai putra ke-30 putra-putra Paku Buwono IX.

Pemerhati budaya asal Kota Solo Tundjung W. Sutirto menyebut, PB X sudah sejak usia tiga tahun telah ditetapkan sebagai putra mahkota.

Alhasi PB X adalah satu-satunya raja dalam dinasti Mataram yang sudah ditetapkan sebagai calon raja sejak usia kecil.

Sehingga waktu kecil sudah bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibdya Rajaputra Nerendra Mataram V Ing Karaton Surakarta Hadiningrat.

"Sebagai putra mahkota mendapat pendidikan berbagai hal agar kelak dapat memangku jabatannya sebagai raja utama. Pendidikan yang harus diikuti seperti pengetahuan mengenai kesusastraan, agama, kesenian, keterampilan mengunakan senjata, piwulang dari buku-buku klasik, pengetahuan psikologi dan pelajaran bahasa," sebutnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Keraton Solo Diselimuti Dua Kabar Duka: Selain Mooryati Soedibyo, Adik Raja Paku Buwono XIII Meninggal Hari Ini

Dari dahulu, lanjut Tundjung, sang putra mahkota sudah diperkenalkan dengan tugas-tugas kenegaraan di samping tugas belajar.

Sejak usia tujuh tahun sang putra mahkota selalu diajak ayahandanya memenuhi undangan residen untuk makan siang di rumah residen.

"Pada 1983 Pangeran Adipati Anom dinobatkan sebagai raja keraton menggantikan ayahandanya sebagai Paku Buwono X. Pemerintah Hindia Belanda menaikkan pangkat militernya menjadi Mayor Jenderal," ucapnya.

Lantas bagaimana kehidupan zaman kepemimpinan PB X? Sebagai raja, PB X melakukan sejumlah pembaharuan politik, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan. Sehingga PB X dapat dikatakan sebagai sosok raja yang visioner karena mulai usia dini sudah mengenal pergaulan dengan dunia luas.

Zaman dahulu, peran PB X untuk memperkuat posisi keraton adalah menjadikan kekuatan simbolik bagi masyarakat Jawa yang dapat mengimbangi posisi pemerintah Hindia Belanda.

Misalnya, ada larangan di Hindia Belanda agar tidak mendirikan lembaga keagamaan Islam tetapi dijawab oleh PB X dengan mendirikan Mambaul Ulum sebagai sekolah Islam di Keraton Surakarta.

"Dalam perjuangan melawan hegemoni kekuasaan Hindia Belanda, PB X melakukan dengan cara aksi simbolik, seperti melakukan perjalanan ke seluruh negeri, terutama di pulau Jawa untuk memberikan makna bahwa masih ada kekuasaan raja sebagai simbol pemerintahan Praja Kejawen. Kemudian, PB X juga membangun berbagai sarana mulai dari pendidikan, ekonomi, transportasi, olahraga, dan media untuk menjadi simbol kewibawaan keraton," paparnya.

Tundjung menjelaskan, masa pemerintahan PB X (1893-1939) dapat dikatakan mengantar menuju kemerdekaan Indonesia.

Mulai dari era pergerakan nasional di tiga dasa warsa awal abad ke-20 masa pemerintahan dipenuhi dengan dukungan terhadap organisasi pergerakan nasional.

"Dukungan finansial dan sumber daya manusia sangat besar terhadap pergerakan nasional seperti memberikan bea siswa untuk menempuh pendidikan di Eropa bagi elit-elit yang di kemudian hari menjadi tokoh sentral berdirinya Republik Indonesia seperti Mr. Soepomo dan Dr. Radjiman Widyodiningrat (Ketua BPUPKI)," sebutnya.

PB X juga berkontribusi atas pelestarian seni dan budaya Jawa. Dahulu, para pujangga keraton terutama pengarang karya sastra Jawa mendapat dukungan penuh dari PB X.

Seperti Padmasusastra dan 18 pengarang sastra Jawa yang difasilitasi oleh PB X dalam bentuk penerbitan.

"Kemudian yang terpenting adalah logo keraton yang dinamakan Sri Radya Laksana diciptakan untuk menambah kewibawaan keraton," lanjutnya. (nis/nik)

Peninggalan PB X di Solo
1. Gapura masuk Kota Surakarta
2. Pasar Gedhe Kota Solo
3. Jembatan Jurug
4. Masjid Agung
5. Museum Radya Pustaka
6. Stadion Sriwedari, dan lainnya

Editor : Niko auglandy
#kasunanan surakarta #Paku Buwono