Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kabel-Kabel Udara yang Berseliweran, Jangan Coreng Estetika Perwajahan di Kota Solo, Ini Solusinya

Antonius Christian • Rabu, 25 Juni 2025 | 22:10 WIB
Kabel semrawut di kawasan Citywalk Jalan Slamet Riyad
Kabel semrawut di kawasan Citywalk Jalan Slamet Riyad

RADARSOLO.COM - Sebagai koridor pusat di Solo, Jalan Slamet Riyadi menyimpan lanskap tropis yang jarang dimiliki daerah kota-kota besar lain di Indonesia. 

Deretan pepohonan di sepanjang median dan trotoar, membuat kawasan ini terasa teduh dan sejuk. Namun, keindahan ini masih terganggu keberadaan kabel-kabel udara yang berseliweran.

Pakar Teknik Sipil dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Eng. Kusumaningdyah Nurul Handayani menilai, bahwa penataan kabel di Jalan Slamet Riyadi dengan sistem underground utility merupakan langkah strategis yang bisa diambil Pemkot Solo.

Karena sistem kabel bawah tanah tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur, tetapi juga menyangkut estetika. Termasuk keberlanjutan lingkungan dan identitas kota.

“Jalan Slamet Riyadi ini koridor utama. Setiap kali saya kedatangan tamu dari luar negeri, mereka terpukau melihat hijaunya ruas jalan ini. Mereka jarang menemui jalan perkotaan yang hijau dan sejuk,” ungkap Kusumaningdyah kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Jalan Protokol di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi Kota Solo Masih Semrawut Kabel, Ini Solusinya

Sayangnya, lanjut Kusumaningdyah, keindahan itu belum bisa dinikmati sepenuhnya. Karena terganggu kabel-kabel yang melintang di udara.

Tak jarang kabel itu menyebabkan pohon-pohon di sepanjang jalan harus dipangkas atau ditebang. Hanya karena mengganggu jalur kabel atau sebaliknya.

“Padahal pohon-pohon itu lebih dulu hadir di sana. Beberapa mungkin sudah berumur puluhan, bahkan ratusan tahun. Tetapi karena kabel, justru pohon yang dikorbankan. Kalau dibiarkan seperti itu, lama-lama identitas hijaunya hilang,” tegasnya.

Kusumaningdyah mengingatkan, pohon-pohon rindang seperti yang tumbuh di Jalan Slamet Riyadi tidak bisa digantikan dengan cara instan.

Perlu waktu belasan hingga puluhan tahun untuk tumbuh dengan ketinggian dan kerimbunan yang sama.

Karena itu, mempertahankan pohon dan menata ulang kabel dengan sistem bawah tanah adalah solusi ideal.

“Jika kabel ditanam, maka kita bisa merawat pepohonan dengan lebih optimal. Dan ini akan memperkuat kesan tropis dan hijau, yang menjadi nilai jual kawasan Jalan Slamet Riyadi,” jelasnya.

Meskipun menanam kabel ke bawah tanah membutuhkan perencanaan teknis dan biaya besar, Kusumaningdyah menilai Jalan Slamet Riyadi lokasi yang sangat cocok untuk percontohan atau pilot project.

“Saya kira, kalau ingin memulai penataan kabel bawah tanah, jangan di seluruh kota dulu. Mulailah dari koridor utama yang memang menjadi representasi kota, seperti Jalan Slamet Riyadi. Ini strategis dan akan berdampak langsung terhadap citra kota,” bebernya.

Kusumaningdyah juga menekankan pentingnya aspek estetika urban dalam pembangunan infrastruktur kota.

Ia menyebut, kota modern yang nyaman dihuni tak hanya diukur dari kelancaran lalu lintas atau fasilitas publik, tetapi juga kenyamanan visual dan harmonisasi elemen kota. Termasuk vegetasi dan kabel utilitas.

“Estetika itu bukan hanya soal cantik, tapi harmoni. Jalan utama kota harus menghadirkan rasa nyaman, teduh, dan rapi. Kalau terlalu banyak kabel menggantung, tidak hanya mengganggu mata, tapi juga membahayakan keselamatan,” ujarnya.

Ia mengakui, di beberapa kota besar Tokyo dan Bangkok, kabel udara yang semrawut sudah menjadi bagian dari identitas lokal.

Namun ia menegaskan, pendekatan seperti itu sangat kontekstual dan belum tentu sesuai dengan karakter Kota Solo.

“Tapi kan Jalan Slamet Riyadi berbeda. Kita punya lanskap tropis yang kuat. Ini harus ditonjolkan. Justru kabel yang berseliweran merusak potensi itu,” tegasnya.

Menanggapi keraguan soal biaya besar untuk membuat ducting atau underground utility, Kusumaningdyah mengajak semua pihak untuk melihat dari sudut pandang investasi jangka panjang. Bukan hanya dari nominal belanja tahunan.

“Ya memang mahal di awal, tapi perawatannya murah. Gangguannya minim dan estetikanya terjaga. Ini seperti beli tas mahal tapi tahan lama. Daripada beli murah tapi cepat rusak dan harus diperbaiki terus,” tuturnya.

Menurut Kusumaningdyah, sistem kabel bawah tanah lebih tahan gangguan alam. Seperti angin kencang atau hujan deras yang sering menyebabkan gangguan jaringan listrik dan internet.

“Kalau di atas, kabel gampang putus karena pohon tumbang atau angin kencang. Kalau di bawah, lebih aman dan awet. Ini investasi yang hemat untuk jangka panjang,” paparnya.

Meski mendukung penuh penerapan underground utility, Kusumaningdyah menyadari keberhasilan program ini sangat bergantung sinergitas antar-stakeholder.

Baik Pemkot Solo, PLN, PDAM, Telkom, hingga penyedia layanan fiber optik.

“Pemerintah bisa saja bangun ducting, tapi kalau para pemilik jaringan tidak mau masuk, ya percuma. Jadi harus ada komitmen, regulasi, dan standar teknis yang jelas. Jangan sampai buat infrastruktur, tapi tidak digunakan,” imbuhnya.

Dia juga menekankan perlunya pemetaan utilitas bawah tanah secara menyeluruh, agar tidak terjadi konflik antara kabel, pipa, dan drainase.

Pendekatan yang asal-asalan justru akan menciptakan masalah baru.

“Perlu pemetaan teknis yang matang. Tidak bisa dicampur aduk antara kabel PLN dengan fiber optik misalnya. Harus ada jalur sendiri-sendiri. Ini teknis dan perlu perencanaan lintas sektoral,” tandasnya.

Melalui penataan ulang kabel sistem bawah tanah, Solo bisa naik kelas sebagai kota modern secara infrastruktur. Jalan Slamet Riyadi bisa menjadi contoh nyata, bahwa pembangunan bisa berjalan berdampingan dengan kelestarian alam.

“Kita beruntung tinggal di kota tropis yang subur. Sayang kalau tidak dimaksimalkan. Jalan Slamet Riyadi itu ikon. Kalau bisa menjaga hijaunya dan menata infrastrukturnya, Solo bisa jadi percontohan nasional dalam pembangunan kota hijau,” bebernya. (atn/fer)

Editor : Niko auglandy
#kota solo #kabel #perwajahan