RADARSOLO.COM – Setiap Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo), ada satu fenomena yang selalu menarik perhatian, yakni mayarakat yang berebut tlethong atau kotoran Kebo Bule Kyai Slamet.
Iring-iringan Kebo Bule Kyai Slamet yang menjadi cucuk lampah atau pembuka barisan dalam Kirab Pusaka Dalem 1 Suro, memang selalu jadi daya tarik utama.
Masyarakat yang menyaksikan kirab rela berdesakan, bahkan datang dari jauh, hanya untuk mendapatkan sisa kotoran kerbau keramat ini, yang diyakini membawa keberkahan dan khasiat istimewa.
Lantas, apa sebenarnya alasan di balik rebutan kotoran Kebo Bule ini?
Sejarah Kebo Bule Kyai Slamet
Kebo Bule Kyai Slamet bukanlah hewan ternak biasa.
Kerbau itu adalah klangenan atau hewan kesayangan Raja Pakubuwono II sejak istananya masih di Kartasura.
Menurut buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur Kebo Bule dengan warna kulit khas ini merupakan hadiah dari Kyai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo kepada Pakubuwono II.
Kerbau tersebut ditugaskan sebagai pengawal dari sebuah pusaka keraton bernama Kyai Slamet.
Konon, Kebo Bule ini juga memiliki peran historis dalam menentukan lokasi Keraton Surakarta Hadiningrat yang sekarang.
Setelah Istana Kartasura terbakar akibat pemberontakan pada 1742, Kebo Bule Kyai Slamet dilepas dan diikuti oleh para abdi dalem.
Kerbau ini berhenti di lokasi di mana Keraton Kasunanan Surakarta saat ini berdiri.
Sebagai pusaka hidup Keraton Kasunanan Surakarta, Kebo Bule mendapatkan perlakuan istimewa.
Contohnya, saat Nyai Manis Sepuh (kerbau keturunan Kyai Slamet tertua) mati pada November 2020.
Hewan itu dimakamkan dengan ritual khusus, dimandikan, diberi kain kafan, dan didoakan layaknya memakamkan manusia.
Mitos dan Kepercayaan di Balik Rebutan Kotoran Kebo Bule
Pada acara Kirab Malam 1 Suro Keraton Solo, mitos yang mengiringi Kebo Bule Kyai Slamet tak hanya terbatas pada kehadirannya.
Yang paling fenomenal adalah keyakinan bahwa kotoran dan air kencing kebo bule dapat membawa berkah dan berkhasiat.
Oleh sebab itu, setiap kotoran lunak yang jatuh di sepanjang rute kirab menjadi rebutan oleh ribuan warga.
Warga tak segan mengambil kotoran yang berceceran di jalan dengan tangan telanjang.
Air kencing kebo bule juga menjadi incaran, dilap dan diperas ke dalam botol atau plastik.
Kepercayaan yang beredar menyebutkan bahwa kotoran Kebo Bule ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Tidak hanya itu, tradisi ini juga merambah ke sektor pertanian.
Beberapa petani di pedesaan menanam sedikit air kencing dan kotoran Kebo Bule di empat sudut sawah mereka.
Konon, praktik ini dipercaya dapat membuat hasil panen melimpah dan terhindar dari ancaman hama penyakit.
Perspektif Keraton dan Penelitian Ilmiah
Meskipun fenomena rebutan kotoran Kebo Bule sangat masif, pihak Keraton Solo sendiri tidak pernah secara resmi menyatakan bahwa kotoran tersebut membawa berkah atau khasiat tertentu.
Kepala Sasono Pustoko Keraton Solo, GPH Puger, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, memberikan pandangannya.
"Kalau tlethong (kotoran) dianggap menyuburkan sawah karena dapat dibuat pupuk, itu masih diterima akal. Namun, kami memahami ini sebagai cara masyarakat menciptakan media untuk membuat permohonan. Mereka sekadar membutuhkan semangat untuk bangkit,” terang GPH Puger.
Senada, penelitian oleh Muhammad Sarlito dari UIN Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2013 juga mengungkapkan bahwa banyak masyarakat yang mengambil kotoran Kebo Bule Kyai Slamet untuk digunakan sebagai jimat, pelaris dagangan, campuran pupuk, dan lain-lain.
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi beberapa faktor penyebab fenomena ini:
- Keyakinan mendalam: Bahwa mendapatkan kotoran tersebut akan mendatangkan keselamatan dan rezeki yang melimpah.
- Pengaruh sosial: Dari teman atau panutan (orang tua dan masyarakat sekitar).
- Persepsi terhadap raja: Raja dianggap sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan, sehingga apapun yang dekat dengan raja (termasuk hewan kesayangannya) dipercaya dapat membawa berkah.
Fenomena rebutan kotoran Kebo Bule Kyai Slamet adalah cerminan kekayaan budaya Jawa yang kompleks, memadukan sejarah, kepercayaan, dan harapan masyarakat dalam sebuah ritual sakral. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria