Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pameran Seabad Keroncong: Jejak Sejarah Musik Keroncong di Lokananta Solo

Fauziah Akmal • Rabu, 2 Juli 2025 | 02:26 WIB
Pameran Seabad Musik Keroncong di Lokananta Solo, Selasa (1/7). (Arief Budiman/Radar Solo)
Pameran Seabad Musik Keroncong di Lokananta Solo, Selasa (1/7). (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Lebih dari sekadar nostalgia, pameran Senandung Lokananta: Seabad Keroncong Surakarta mengajak publik untuk menyelami sejarah musik keroncong melalui arsip-arsip langka yang dimiliki oleh Lokananta. Pameran ini dibuka hingga 30 November dan fokus untuk menelusuri bagaimana musik keroncong berkembang di Solo selama satu abad terakhir.

Kurator pameran Leica Kartika menjelaskan bahwa pameran ini merupakan eksplorasi mendalam terhadap arsip-arsip yang ada di Lokananta yang berkaitan dengan musik keroncong.

“Lokananta memiliki banyak rekaman dan arsip keroncong, baik dari studio maupun dari RRI. Kami mencoba menelusuri kembali arsip tersebut selama 100 tahun terakhir, yang tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk RRI dan keluarga musisi,” kata Leica, Selasa (1/7).

Leica juga menambahkan bahwa perkembangan musik keroncong di Solo tidak hanya ditopang oleh satu institusi saja, melainkan berkat kontribusi dari banyak pihak, termasuk para musisi lokal dan tokoh besar seperti Waldjinah dan Gesang, yang turut merilis musik keroncong dalam format kaset.

Pameran ini menampilkan memorabilia langka, seperti piringan hitam rilisan Lokananta, koleksi dari kompetisi Bintang Radio RRI, serta arsip Radio Orkes Solo.

“Beberapa koleksi bahkan sudah tidak ditemukan di RRI, hanya notasinya saja yang tersisa. Yang lengkap justru ada di Lokananta,” jelasnya.

Untuk menjangkau generasi muda, pameran ini dirancang dengan konsep yang lebih kekinian. Sebelumnya, Galeri Lokananta juga pernah menggelar pameran mengenai musik Indonesia periode 1959-1969. Menurut Leica, pengaruh rezim juga terlihat jelas dalam perjalanan musik keroncong.

“Musik keroncong memiliki rentang sejarah yang panjang, dari masa pendudukan Belanda dan Jepang hingga pengaruh musik Barat yang masuk. Kami ingin menunjukkan bagaimana musik keroncong beradaptasi dan merespons perubahan zaman,” imbuhnya.

Penelitian utama untuk pameran ini dilakukan oleh Erie Setiawan. Dokumentasi juga dikumpulkan dari keluarga Waldjinah, Gesang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip), serta RRI.

Salah seorang pengunjung asal Semarang Tia Amanda mengungkapkan pengalaman berkesannya saat mengunjungi pameran ini.

“Awalnya saya belum paham tentang keroncong. Tapi setelah melihat pameran ini, saya jadi lebih tahu tentang tokoh-tokoh pentingnya, dan bisa menikmati musiknya langsung,” katanya.

Tia berharap musik keroncong dapat terus dikenalkan kepada generasi muda agar tetap lestari. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#keroncong #Seabad #lokananta #sejarah