Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Pencarian Mahasiswi UNS yang Loncat dari Jembatan Jurug Masih Nihil, Basarnas Kerahkan Alat Deteksi Canggih

Antonius Christian • Rabu, 2 Juli 2025 | 16:25 WIB

Pencarian mahasiswi UNS yang diduga loncat dari Jembatan Jurug terus dilakukan, Basarnas kerahkan alat deteksi bawah air.
Pencarian mahasiswi UNS yang diduga loncat dari Jembatan Jurug terus dilakukan, Basarnas kerahkan alat deteksi bawah air.

RADARSOLO.COM - Upaya pencarian terhadap Devitasari Anugraeni (22), mahasiswi semester akhir Prodi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Sekolah Vokasi UNS, kembali dilanjutkan pada Rabu pagi (2/7/2025).

Ia diduga melompat dari Jembatan Jurug ke Sungai Bengawan Solo pada Selasa siang (1/7) sekitar pukul 12.00 WIB.

Sejak laporan hilangnya Devitasari, seluruh unsur SAR gabungan terus melakukan pencarian intensif di sepanjang aliran sungai.

Dugaan percobaan bunuh diri diperkuat oleh keterangan saksi yang melihat korban berjalan seorang diri di trotoar jembatan sebelum kejadian.

Baca Juga: Perempuan yang Lompat dari Jembatan Jurug Ternyata Mahasiswi Kampus Negeri Ternama di Solo

Koordinator Basarnas Pos Surakarta, Gohan Wijayana, mengatakan pencarian hari kedua dilakukan lebih sistematis.

"Hari ini pencarian kami lanjutkan dengan membagi tim ke dalam tiga crew utama. Total personel gabungan yang dikerahkan mencapai kurang lebih 100 orang," ujarnya.

 

Gohan menjelaskan bahwa pencarian dilakukan dengan tiga metode sekaligus.

Pencarian mahasiswi UNS yang diduga loncat dari Jembatan Jurug terus dilakukan, Basarnas kerahkan alat deteksi bawah air.
Pencarian mahasiswi UNS yang diduga loncat dari Jembatan Jurug terus dilakukan, Basarnas kerahkan alat deteksi bawah air.

Pertama, tim melakukan penyelaman di titik jatuh yang diduga menjadi lokasi awal korban menghilang, yakni di area bawah Jembatan Jurug.

Baca Juga: Mahasiswi Kampus Negeri Ternama di Solo yang Lompat dari Jembatan Jurug Tulis Bipolar dalam Pesannya, Ini Penjelasannya

"Tim penyelam akan menyisir dasar sungai di sekitar pilar-pilar jembatan. Namun karena air keruh dan arus cukup deras, kami menekankan pada keselamatan personel," ujar Gohan.

Kedua, penyisiran dilakukan di permukaan air menggunakan dua perahu karet menyusuri aliran sungai mulai dari kawasan Jurug hingga Jembatan Ringroad.

Jarak penyisiran sepanjang 3,06 kilometer dilakukan secara teliti dan berulang untuk memastikan tidak ada bagian sungai yang terlewat.

"Jika sampai siang, sekitar pukul 12.00 WIB belum ditemukan, kami akan memperluas area pencarian ke arah hilir," lanjutnya.

Ketiga, penyisiran dilakukan dari jalur darat, mengikuti aliran sungai di sisi kanan dan kiri.

Relawan bersama warga menyusuri tepian sungai sembari memantau apakah ada tanda-tanda jasad korban tersangkut atau mengambang.

Gohan mengakui bahwa proses pencarian kali ini tidak mudah. Ada sejumlah kendala yang cukup signifikan menghambat efektivitas pencarian.

Baca Juga: Sosok Sumardiyono, Dosen yang Disebut Mahasiswi UNS di Pesan Terakhir Sebelum Lompat dari Jembatan Jurug: Beri Banyak Keringanan, Tapi...

"Pertama, luasnya wilayah pencarian yang terbuka dan memanjang membuat kami harus bekerja ekstra untuk memantau setiap titik. kondisi air sangat keruh sehingga pencarian secara visual nyaris tidak memungkinkan. Ketiga, arus di bagian bawah sungai sangat deras dan berbahaya bagi tim penyelam," ungkapnya.

Meski demikian, proses pencarian terus dilakukan tanpa henti sejak malam sebelumnya.

Tim SAR melakukan pengebloran, yakni pemantauan menggunakan lampu sorot dan alat bantu pencahayaan di dua titik sejak pukul 19.00 WIB hingga Rabu pagi pukul 06.00 WIB. Namun hasilnya masih nihil.

Sebagai bentuk optimalisasi, Basarnas pagi ini mulai mengerahkan alat deteksi bawah air jenis AquaEyes.

Baca Juga: Isi Pesan Terakhir Mahasiswi UNS yang Lompat dari Jembatan Jurug, Minta Jangan Salahkan Kampusnya: Maaf Aku Tak Sekuat Ibu...

Alat tersebut mampu mendeteksi objek di dasar sungai meskipun dalam kondisi air keruh.

"Alat ini akan digunakan secara bergantian untuk memetakan kemungkinan adanya tubuh manusia di dasar sungai. Kami berharap ini bisa membantu mempercepat proses pencarian," ucap Gohan.

Sampai saat ini, belum ada informasi dari masyarakat yang melihat adanya jasad atau benda mencurigakan mengambang di sungai.

Oleh karena itu, Gohan mengimbau agar masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Bengawan Solo ikut membantu proses pencarian dengan cara melaporkan segera bila menemukan hal mencurigakan.

"Mohon kerja sama dari warga. Jika melihat benda mencurigakan di sungai atau tercium bau tak sedap, mohon segera melapor ke petugas. Partisipasi masyarakat sangat kami harapkan," tegasnya. (atn)

Editor : Nur Pramudito
#melompat #kampus ternama #basarnas #solo #uns #mahasiswi #jembatan jurug #loncat