Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Surga Para Pecinta Anggrek Digelar di Gedung Graha Wisata Niaga Solo

Fauziah Akmal • Senin, 21 Juli 2025 | 04:31 WIB

 

TAWAR MENAWAR: Pengunjung melihat koleksi yang dipamerkan dalam ajang Solo Anggrek Festival 2025 di Gedung Graha Wisata Niaga Solo.
TAWAR MENAWAR: Pengunjung melihat koleksi yang dipamerkan dalam ajang Solo Anggrek Festival 2025 di Gedung Graha Wisata Niaga Solo.

RADARSOLO.COM Dunia anggrek tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga peluang bisnis yang menjanjikan.

Hal inilah yang tersaji dalam Solo Anggrek Festival 2025 di Gedung Graha Wisata Niaga Solo selama sepekan (19-27/7/2025).

Festival ini menyedot perhatian ratusan pengunjung dari Solo Raya hingga luar kota. Termasuk para pembudidaya, kolektor, hingga penghobi rumahan.

Salah seorang pengunjung adalah Rina, warga Semarang mengaku datang khusus untuk mencari jenis anggrek baru. Menurutnya, dia belum berniat berjualan, tetapi kegemarannya terhadap anggrek membuatnya kerap membeli tanaman dari berbagai sumber.

“Saya punya enam keluarga anggrek di rumah, semua saya coba tempatkan di lokasi berbeda, teras, bawah pohon jambu, kamar mandi, bahkan belakang rumah. Saya belajar dari pengalaman. Mana yang cocok panas, mana yang butuh teduh,” tutur Rina kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (20/7/2025).

Festival ini tidak hanya menghadirkan pameran anggrek dari berbagai jenis dan warna, tetapi juga memperkaya pengunjung dengan beragam edukasi.

Mulai dari lomba, workshop, hingga talkshow dengan pakar anggrek nasional.

Salah satunya talkshow bersama anggota Perhimpunan Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) Malang Raya Dedek Setia Santoso sekaligus pemilik DD Orchid Nursery, Minggu (20/7).

Dedek membagikan perjalanan dari seorang sarjana fakultas ilmu administrasi menjadi pengusaha sukses di bidang anggrek.

“Lulus kuliah saya banyak ditolak kerja. Pada 2007, saya serius menanam anggrek di lahan 1x1,5 meter. Dari dua botol bibit, sekarang saya punya 108 petani binaan dan produksi 5–10 ribu bibit per hari,” ujar Dedek.

Menurutnya, keberhasilan merawat anggrek bukan soal hobi semata, tapi pemahaman terhadap argoklima.

Lingkungan tempat tumbuhnya anggrek, seperti suhu, cahaya, kelembaban, dan sirkulasi udara.

Dedek menambahkan, bisnis anggrek memiliki potensi besar karena permintaannya tinggi. Sementara 70 persen kebutuhan nasional masih impor.

Sidling umur 5-6 bulan bisa dijual seharga Rp20 ribu, padahal biaya produksi cuma Rp 5 ribu. Kalau kita punya 1 meter persegi bisa ditanami 300 tanaman, bayangkan skalanya,” katanya.

Dia membangun rantai pasok dengan para petani binaan agar tetap bisa panen dan menjual setiap bulan.

Menariknya, Dedek melibatkan anak-anak muda dari berbagai daerah untuk magang. Bahkan mereka menjual anggrek secara daring melalui media sosial dari kebunnya.

Segmentasi pasar pun luas, dari kolektor kelas atas hingga pengguna anggrek sewaan untuk dekorasi acara.

Untuk pemula, Dedek menyarankan mulai dari satu jenis yang sesuai dengan lingkungan rumah, serta belajar langsung ke kebun anggrek.

Enggak semua anggrek bisa hidup di tempat kita. Jangan asal beli karena bunganya bagus. Nanti malah stres, busuk, dan mati. Mulai dari kecil, pahami karakter tanaman,” pesannya. (zia/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#solo #anggrek #bisnis