RADARSOLO.COM – Keris Kiai Tenggara, pusaka hibah dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo, kembali tampil di muka publik lewat kirab sakral, Sabtu (9/8) pagi. Kirab ini sebagai bagian utama peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Museum Keris Nusantara.
Pusaka ini menempati barisan terdepan, diapit dua keris pendamping—Kyai Sido Asih dan Kyai Doro Asih—dalam prosesi adat lengkap. Kirab diiringi tabuhan gamelan, pembawa tombak dan payung agung, serta pasukan berseragam tradisional Jawa.
Rombongan berangkat dari Loji Gandrung, rumah dinas wali kota, melintasi Jalan Bhayangkara, dan berakhir di halaman Museum Keris Nusantara. Selain kirab, perayaan ini juga ditandai pembukaan Pameran Temporer Abyakta Vastu, menampilkan tujuh keris sajen dari abad ke-6 hingga ke-8 Masehi.
Kepala UPTD Museum Solo Bonita Rintyowati menjelaskan, tema “Abyakta Vastu” berasal dari bahasa Sanskerta—abyakta berarti perkembangan, vastu berarti tempat atau lahan.
Tema ini mencerminkan harapan agar museum terus bertumbuh, sekaligus mengangkat makna historis keris sajen yang dahulu menjadi sesaji wajib dalam ritual pembebasan tanah sima (tanah bebas pajak untuk rakyat).
Pameran ini berlangsung sembilan hari, membuka kesempatan publik melihat artefak yang biasanya tersimpan rapat di ruang koleksi. Bonita mengakui, tantangan museum kini semakin besar.
“Dulu PAD kami sekitar Rp60 juta–Rp125 juta, sekarang targetnya Rp450 juta. Jadi kami harus kreatif membuat program yang menarik minat pengunjung,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Aryo Widyandoko menegaskan museum adalah tolok ukur kemajuan peradaban, bukan sekadar tempat menyimpan benda kuno.
Ia menilai koleksi keris sajen menjadi bukti kearifan lokal yang sudah maju sejak berabad-abad lalu.
“Kearifan nenek moyang kita mungkin melampaui bangsa lain. Sayangnya, kita kurang tradisi mencatat sejarah. Museum menjadi penting untuk menjaga memori kolektif bangsa,” kata Aryo.
Menurutnya, memahami sejarah keris memberi perspektif luas tentang evolusi teknologi senjata di dunia—dari era animisme, zaman batu, perunggu, hingga besi—dan menegaskan peran penting senjata tradisional dalam perjalanan peradaban manusia. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno