RADARSOLO.COM - Dikisahkan, kerinduan menyeruak di seluruh hati Raden Antareja. Rindu akan sosok sang adik, Gatotkaca dan sang ayah yang berada di negeri Pringgodani. Cukup lama Antareja tak bertemu, termasuk saat sang adiknya dinobatkan sebagai raja Pringgodani.
"Waktunya genap sebulan setelah Gatotkaca dijadikan raja. Saat itu, Antareja tidak bisa menghadiri penobatan tersebut," ucap Sutradara Wayang Orang Sriwedari Risang Janur Wendo kepada Jawa Pos Radar Solo.
Berniatan segera ke Pringgodani, sang ibu dan eyang hanya mempersilahkan sambil berpesan. 'Pergilah ke Pringgodani, tapi jangan sampai ada iri hati dari lubuk hatimu'.
Eyangnya bahkan turut menitipkan amanah. Dengan hati yang lapang, Antareja menerima pesan itu.
"Antareja pun berangkat menuju Pringgodani. Namun di perjalanannya, dia bertemu dengan Begawan Durno. Di mana niat Durno itu ingin membuat kekacauan, dengan cara mengobar kedengkian di hati Antareja," lanjutnya.
Bisikan-bisikan racunnya terdengar ke telinga Raden Antareja.
"Apa yang dilakukan Raden Werkudoro itu keliru. Seharusnya yang dimuliakan itu anak pertama dahulu bukan anak kedua". Begitulah contoh kata-kata yang terlontar.
"Nah, Raden Antareja tidak tergoyahkan dengan kata-kata Begawan Durno. Hanya saja, pada saat itu ada arwah atau iblis itu masuk ke jiwa Antareja. Sehingga membuat Antareja menyetujui atas apa yang dikatakan oleh Durno. Maka dari itu, dia mengatakan akan Mbalela atau bertindak yang seharusnya," cerita Risang.
Durno bergegas pergi, meninggalkan kegaduhan. Enggan disalahkan, Durno menegaskan kata-katanya hanyalah pemikirannya saja.
Dalam perjalanan, Antareja bertemu Raden Antasena, adik kedua atau anak ketiga Werkudara. Dari sana, keganjalan tercium.
"Untuk memastikan, Antasena bertanya. Apakah benar Begawan Durno yang kau temui? Tapi Antareja menepisnya. Setelah itu, Antasena kembali bertanya, sekarang mau kemana. Dijawablah oleh Antareja, mau ke Pringgodani, mau menyelesaikan apa yang harusnya diseledaikan. Dari sana Raden Antasena terkejut," ucap Risang.
Bagi Antasena, tak ada alasan iri mengingat Pringgodani memang takdir Gatotkaca sebagai putra Arimbi, putri Kala Trembaka, pemilik negeri itu. Namun, Antareja tetap memilih jalan perang.
"Antareja mengajak Antasena berperang. Siapa menang, siapa kalah. Namun Antasena tidak mau memukul kakaknya, dinilai akan kualat. Lalu Antareja sumbar atau mencaci maki si Antasena seperti wanita karena tidak mau berperang," ucap Risang.
Karena dikatakan seperti wanita karena tak mau berperang, Antasena agak tersulut. Sehingga membuat Raden Antasena meminta maaf dan berkata kalau kita berperang, aku akan membalasnya.
"Setelah itu masuk ke adegan ketiga gara-gara. Punakawan mengikuti Raden Abimanyu yang diutus Werkudara untuk mencari Gatotkaca. Di jalan sempat ada raksasa, terjadi perperangan. Raden Abimanyu mengalahkannya lalu mereka meneruskan perjalanan," jelasnya.
Sedang betapa, Raden Gatotkaca dibangunka muridnya. Tak lama, datanglah Abimanyu yang mengungkapkan perasaan mengganjalnya.
Akhirnya mereka kembali ke Pringgodani. Setelah itu, Raden Antasena datang, memberitahu semuanya tentang Raden Antareja.
"Tak lama kemudian Raden Antareja datang. Gatotkaca dan Abimanyu berusaha membujuk supaya Antareja mengurungkan niatnya. Tapi ditolak sampai terjadi peperangan. Kala itu, Raden Gatotkaca menghadapinya dan kalah, sementara Raden Abimanyu diminta segera ke Pringgodani untuk memberitahu ke Pandawa apa yang telah terjadi," lanjutnya.
Itulah setengah cerita dari Antareja Mbalela. Apakah Raden Antareja akan mengurungkan niatnya? ataukah malah terjadi peperangan besar? (nis/nik)
Editor : Niko auglandy