Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Alasan Mantan Kader PDIP Solo pindah ke PSI: Kritik Dianggap Mengganggu

Antonius Christian • Rabu, 13 Agustus 2025 | 22:19 WIB
Tiga mantan kader PDIP yang memutuskan gabung PSI.
Tiga mantan kader PDIP yang memutuskan gabung PSI.

RADARSOLO.COM - Sejumlah mantan kader PDI Perjuangan (PDIP) yang memutuskan pindah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membantah tudingan bahwa mereka tidak pernah berkontribusi bagi partai lamanya.

Mereka menegaskan, puluhan tahun telah dihabiskan untuk membesarkan PDIP di berbagai tingkatan.

Salah satunya adalah Wawanto, mantan kader PDIP yang resmi bergabung dengan PSI.

Dia menegaskan tak pernah membenci partai berlambang banteng tersebut. Bahkan, dia mengaku bergabung sejak 1989 melalui organisasi Banteng Kampus.

"Jadi saya lulus SMA 1988, terus 1989 masuk Banteng Kampus. Saya ikut menggelorakan PDIP Solo, lalu jadi pengurus ranting Kadipiro selama empat periode atau 20 tahun. Terus saya mundur dari pengurus agar ada regenerasi kader, memberi kesempatan yang muda-muda," ujarnya.

Namun, menurut Wawanto, niat baik itu tidak mendapat sambutan hangat dari internal PDIP Solo. Kritik yang sering dia sampaikan justru dianggap mengusik ketenteraman partai.

"Alasan mendasar saya berlabuh ke PSI adalah karena saya masih ingin berkontribusi mewarnai perpolitikan di Solo," ucapnya.

"Selain itu, di dalam lingkaran saya tidak dianggap, tidak diajak komunikasi. Bahkan ada statement bahwa Wawanto itu bukan siapa-siapa dan tidak memiliki pengaruh apa pun," imbuhnya.

Wawanto menegaskan kepindahannya ke PSI murni karena alasan pribadi, bukan karena figur-figur yang ada di dalamnya, termasuk keluarga Joko Widodo.

"Saya ke PSI karena murni alasan pribadi saya," ucapnya.

Meski bukan lagi tergolong muda, ia berkomitmen untuk beradaptasi dengan semangat anak muda yang diusung PSI, serta memberikan kontribusi terbaik dalam kontestasi politik mendatang.

Wawanto juga mengaku telah menyerahkan surat pengunduran diri ke DPC PDIP Pucang Sawit pada Rabu (13/8) pagi.

"Sekali lagi, ini pilihan saya," tegasnya.

Senada, Dyah Retno Pratiwi juga memutuskan pindah ke PSI karena merasa partai barunya lebih mewadahi visi dan misi pribadinya.

"Partai ini diisi anak-anak muda dengan pemikiran out of the box. Saya melihatnya sepemikiran dengan saya, sehingga bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiran saya," kata Dyah.

Ia menilai, saat berada di PDIP Solo yang didominasi tokoh senior, akan sulit mewujudkan visi dan misinya. Meski begitu, Dyah tetap berterima kasih karena selama 10 tahun telah diberi ruang untuk belajar politik.

"Soal statement beliau (Ketua DPC PDIP F.X. Hadi Rudyatmo) yang bilang kami tidak paham ideologi, tidak ikut berjuang, dan tidak dianggap berpengaruh, saya tetap mengucapkan terima kasih," ucapnya.

Berbeda dengan Wawanto, Dyah menyebut dia belum mengajukan surat pengunduran diri karena sudah dipecat sejak Pilkada 2024, lantaran tidak mengusung pasangan calon dari PDIP. Meski begitu, ia menyatakan siap membuat surat resmi pengunduran diri. (atn/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#pdip #kader #psi