RADARSOLO.COM — Kota Solo kembali disorot dalam isu peredaran narkoba. Sebuah laporan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah menyebutkan bahwa peredaran narkoba di Solo lebih banyak melibatkan penjual daripada pengguna.
Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Solo, Kombes Pol I Gede Nakti Widhiarta mengaku terkejut dengan data ini. Sebab, data yang ia pegang bersama Polresta Ssolo menunjukkan sebaliknya.
"Kalau bicara data, berdasarkan informasi dari Polresta Surakarta, yang terungkap itu sebagian besar adalah pengguna. Untuk pengedar dan bandar jumlahnya tidak banyak," ujar Nakti.
"Jadi kalau ada yang bilang jumlah penjual lebih banyak, saya tidak paham, itu data dari mana," tambahnya, menyarankan klarifikasi langsung ke BNNP.
Meski demikian, Nakti tidak menampik bahwa peredaran narkoba di Solo tetap mengkhawatirkan. Korban penyalahgunaan datang dari berbagai kalangan, mulai dari remaja, mahasiswa, hingga pekerja.
BNNK Solo konsisten menjalankan program pencegahan melalui sosialisasi di sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat. Namun, upaya rehabilitasi menghadapi tantangan besar.
Setiap tahun BNN memiliki target klien, namun kenyataannya masyarakat justru jarang yang mendaftar secara sukarela. "Kami malah yang mencari klien, bukan mereka yang datang ke sini," ungkap Nakti.
Ia menyebut beberapa alasan utama masyarakat enggan memanfaatkan layanan rehabilitasi. Rasa malu dan takut untuk mengakui diri sebagai pengguna dan khawatir diproses hukum.
"Banyak yang takut kalau mengaku pengguna nanti langsung dipidana. Padahal, rehabilitasi itu tujuannya untuk menyembuhkan, bukan menghukum," jelasnya.
Faktor lain karena stigma sosial dari lingkungan. Banyak pengguna takut dikucilkan atau kehilangan pekerjaan jika statusnya sebagai mantan pengguna terbongkar.
Lebih lanjut, Nakti menambahkan bahwa sebagian besar pengguna yang sudah kecanduan justru cenderung menolak rehabilitasi.
"Kalau sudah parah, mereka malah menolak. Ada juga yang tidak tahu kalau rehabilitasi ini sebenarnya untuk memulihkan mereka," ujarnya.
BNNK Solo terus berupaya mematahkan stigma ini dengan mendekatkan diri ke masyarakat dan mengimbau agar mereka lebih terbuka terhadap program rehabilitasi.
"Jangan takut untuk datang ke BNN. Justru itu jalan keluar untuk sembuh," pungkasnya. "Ini penting, karena narkoba bukan hanya soal hukum, tapi juga soal kesehatan dan masa depan," ujar Naki. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno