RADARSOLO.COM - Manik-manik ternyata bukan sekadar perhiasan, melainkan bagian dari budaya Indonesia sejak zaman prasejarah. Berdasarkan penelitian arkeologi, manik-manik sudah digunakan sebagai perhiasan hingga sarana upacara keagamaan.
Seiring perkembangan zaman, teknik pembuatannya kian beragam dengan bahan mulai dari batu, kaca, hingga logam.
Kini, kerajinan tangan berbahan manik-manik kembali naik daun. Raras Melninda, pengrajin aksesoris asal Solo, mengakui gelang dan cincin manik-manik tengah digandrungi anak muda.
Produk buatannya sudah dipasarkan ke beberapa kota seperti Solo, Yogyakarta, Surabaya, hingga Jombang. Untuk pemasaran offline, Raras rutin membuka lapak di acara Solo Is Solo di Koridor Gatot Subroto dan Solo Art Market di Ngarsopuro setiap akhir pekan.
“Harga produk cukup terjangkau, mulai Rp 10 ribu sampai Rp 120 ribu. Cincin jadi salah satu produk bestseller kami,” ujar Raras.
Studio Raras saat ini berada di kawasan Gumpang, Sukoharjo. Namun, dia berencana pindah ke Kauman agar lebih dekat dengan pusat kerajinan dan wisata di Kota Solo.
Menurutnya, cincin manik-manik paling diminati lantaran desainnya unik dan tren aksesoris ini masih bertahan lama. Bahan yang digunakan pun bervariasi, mulai dari tembaga, stainless steel, hingga batu alam.
Raras mengakui, persaingan bisnis aksesoris handmade cukup ketat. Meski begitu, kesan unik dan sentuhan personal justru menjadi daya tarik utama. “Harapan saya bisa terus mengembangkan usaha ini sekaligus mempromosikan kerajinan lokal Indonesia,” pungkasnya. (rif/nik)
Editor : Niko auglandy