Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Zamrut dan Semar: Tawa, Pesan Moral, dan Tradisi Wayang Orang Tetap Hidup

Mannisa Elfira • Minggu, 24 Agustus 2025 | 18:35 WIB
TITALITAS: Zamrut salah seorang seniman wayang orang asal Solo saat hendak perform di Wayang Orang Sriwedari
TITALITAS: Zamrut salah seorang seniman wayang orang asal Solo saat hendak perform di Wayang Orang Sriwedari

 

RADARSOLO.COM - Siapa yang tak kenal Semar? Tokoh Punakawan legendaris ini selalu jadi magnet dalam pementasan Wayang Orang Sriwedari. Setiap sesi gara-gara tiba, kehadiran Semar bagaikan napas segar.

Bersama Gareng, Petruk, dan Bagong, ia menghadirkan tawa renyah, namun di balik canda terselip wejangan halus yang bisa dibawa pulang penonton.

Di balik topeng dan kostum itu, sosok Semar kini diperankan oleh Zamrut, pria asal Kota Bengawan yang dipercaya sejak beberapa tahun terakhir. Seiring makin menipisnya seniman yang dulu memerankan Punakawan utama, Zamrut pun maju ke depan.

“Dahulu bergantian, tapi sejak 2017 saya sering memerankan Semar. Dulu saya pernah memerankan Petruk juga di tahun 90-an,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Wayang Orang Sriwedari Gelar Lakon Antareja Mbalela: Dari Rindu Jadi Amarah

Menurut Zamrut, Semar adalah tokoh pamomong, bijaksana, dan juru damai. Ia diutus Dewa atau semesta untuk mengayomi siapa saja yang berhati baik.

“Selama sesi gara-gara, kami menampilkannya dengan menyesuaikan zaman. Terpenting, Semar tetap memiliki jiwa bijaksana, tidak misuh, dan tidak asal ngomong,” jelasnya.

Wayang Orang Sriwedari adalah tontonan rakyat, sehingga peran Semar harus adaptif, terutama dengan penonton yang mayoritas anak muda. Zamrut mengakui, ia menyesuaikan adegan agar tetap relevan dan menghibur.

“Semar itu tokoh sakral, tapi penonton kita muda-muda. Jadi kami menyesuaikan, situasional,” tambahnya.

Kini, sesi gara-gara berfungsi sebagai wadah aspirasi masyarakat. Adegan ini menjadi simbol suara rakyat, yang membahas berbagai isu mulai dari ekonomi, sosial, hingga budaya, tanpa menyinggung SARA.

“Dulu adegan ini untuk syiar, sekarang menjadi suara rakyat kecil. Dengan catatan tetap sopan,” ungkap Zamrut.

Selain menghadirkan humor, Semar juga menyampaikan pitutur Jawa, seperti “ojo dumeh”, agar penonton bisa membawa pesan moral dari pertunjukan.

Zamrut berharap Wayang Orang Sriwedari tetap eksis sebagai tontonan yang menghibur sekaligus sarat pesan moral.

Dia juga ingin penonton menjadi kritis, sehingga pementasan bukan sekadar hiburan, tapi juga ruang refleksi untuk kelangsungan seni panggung legendaris ini.

“Yang paling penting, saya ingin yang nonton bahagia. Kembali lagi nonton, tidak kapok, dan tidak bosan,” pungkasnya. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#Lakon #Sriwedari #wayang