Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Rudyatmo Tegas: Wong Solo Jangan Mau Dipecah Belah, Demo Silakan, Tapi Jangan Anarkis

Antonius Christian • Minggu, 31 Agustus 2025 | 18:39 WIB

 

USAI TERBAKAR: Gedung DPRD Kota Solo luluh lantak dibakar massa dini hari.
USAI TERBAKAR: Gedung DPRD Kota Solo luluh lantak dibakar massa dini hari.

RADARSOLO.COM – Kota Bengawan masih berduka. Aroma gosong sisa kebakaran Kantor DPRD Solo belum sepenuhnya hilang. Fasilitas publik yang porak-poranda jadi saksi bagaimana amarah berubah menjadi anarkisme.

Di tengah suasana mencekam itu, mantan Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, muncul dengan suara tegas sekaligus menyejukkan.

Dengan gaya khasnya yang sederhana namun penuh wibawa, Rudy menyerukan agar warga Solo tidak larut dalam provokasi. Ia menekankan, perbedaan apa pun harus dikesampingkan demi menjaga keutuhan kota yang selama ini dikenal ramah dan damai.

“Atas nama warga masyarakat Kota Surakarta, saya menghimbau pada seluruh warga tanpa terkecuali. Tidak perlu bicara agama, suku, atau hal yang bisa memecah belah. Yuk, kita sama-sama jaga persatuan dan kesatuan. Tingkatkan keamanan di masing-masing wilayah. Kalau ada suatu masalah, bisa dikoordinasikan dengan tokoh-tokoh setempat. Jangan sampai kita terprovokasi,” ucap Rudy di Taman Balekambang, Sabtu (30/8).

Mantan orang nomor satu di Balai Kota ini tak menutup mata. Ia menyadari betul bagaimana masa sulit hanya bisa dilewati jika rakyat Solo bersatu.

“Rakyat harus tahu, masa sulit biarlah sulit. Tapi kebersamaan, persatuan, dan kesatuan itu nomor satu. Itu yang menyelamatkan kita di masa depan. Semalam saya sampai pagi bersama teman-teman. Saya bilang, sudahlah, tidak usah melakukan hal-hal lain. Kalau diteruskan, yang rugi justru kita semua, wong Solo sendiri,” katanya lirih, namun penuh penekanan.

Menurut Rudy, aksi unjuk rasa adalah hak masyarakat. Namun ia menolak keras bila demo itu berubah menjadi amuk massa.

“Demo silakan, unjuk rasa silakan. Itu hak warga negara. Tetapi jangan anarkis, jangan merusak fasilitas kota. Kalau semua ini rusak, siapa yang rugi? Kita sendiri. Bangun Kota Solo itu tidak mudah. Saya 15 tahun ikut membangun, susah payah. Kalau dirusak, semua hancur. Taman, jalan, fasilitas publik jadi korban. Jangan sampai jerih payah bertahun-tahun hilang begitu saja,” tegasnya.

Lebih jauh, Rudy mengingatkan agar koordinasi di tingkat kelurahan diperkuat kembali. Bahkan, ia mengusulkan agar tradisi ronda malam yang sempat hilang, kembali digiatkan.

“Solo harus tetap menjadi kota yang aman, nyaman, dan layak ditinggali siapa pun. Justru itu, mari kita kembalikan tradisi menjaga wilayah masing-masing bersama tokoh-tokoh setempat. Dulu, di kelurahan ada ronda bareng, semua warga ikut. Itu membuat Solo lebih tenang. Sore ini, jam 17.00 saya undang tokoh-tokoh wilayah untuk membicarakan lagi hal ini. Kita perlu menghidupkan kembali budaya gotong royong demi kenyamanan bersama,” tandasnya.

Ia juga mengingatkan luka lama yang pernah dialami Solo. Kerusuhan Mei 1998, kata Rudy, menyisakan trauma panjang. Ekonomi lumpuh, investor hengkang, dan kota butuh puluhan tahun untuk bangkit.

“Jangan sampai kita ulang kesalahan masa lalu. Tahun 1998 itu dampaknya sangat luas. Ekonomi lumpuh, investor takut masuk, Solo butuh waktu puluhan tahun untuk pulih. Kalau sekarang kita biarkan aksi anarkis berlanjut, bisa-bisa Solo kembali jatuh ke jurang yang sama. Wong Solo harus kompak, harus sigap, jangan sampai dibiarkan melebar,” ucapnya dengan nada mengingatkan..

Bagi Rudy, menjaga kondusivitas bukan hanya tugas aparat. Itu adalah tanggung jawab bersama.

“Solo ini milik kita semua. Kalau kita tidak jaga, siapa lagi? Kalau rusak, kita juga yang susah. Jadi saya minta, mari kita gandeng tangan, jangan mau dipecah belah. Mari tunjukkan Solo adalah kota budaya yang damai, kota yang bisa menjaga dirinya sendiri. Wong Solo itu terkenal rukun, terkenal gotong royong. Ayo kita tunjukkan lagi, jangan mau kalah oleh provokasi,” pintanya.

Sebagai langkah nyata, Rudy menegaskan akan mengumpulkan seluruh anggota PDIP Kota Solo.

“Semua ranting nanti jam 17.00 tak kumpulkan, tak kon ronda, ikut menjaga lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (atn/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
#rudy #demo #anarkis