RADARSOLO.COM - Suasana haru menyelimuti Mapolresta Solo pada Minggu (31/8) siang. Tangis pecah ketika puluhan anak yang diamankan karena terlibat aksi anarkisme di Solo dipertemukan dengan orang tua mereka.
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) satreskrim, mereka langsung bersimpuh di pangkuan orang tua, menyesali perbuatan mereka.
Salah seorang ibu, Sri Sumarni, tak menyangka anaknya, Agam Mutaqqin, ikut dalam kerusuhan. "Saya tahunya dia ngopi sama temannya. Ternyata dia ikut demo," katanya.
Sumarni mengaku perasaannya sudah tidak enak setelah anaknya membalas pesan WhatsApp-nya pada pukul 03.00 dini hari. "Delok (sebentar) ma, lihat demo," tulis Agam.
Beberapa jam kemudian, Sumarni mendapat kabar dari anak sulungnya bahwa Agam ditangkap polisi. Ia pun kaget dan langsung bergegas ke Mapolresta Solo. "Sudah saya nasihati tadi, le jangan ikut-ikutan lagi ya," tuturnya.
Anaknya, Agam Mutaqqin, mengakui bahwa ia hanya ikut-ikutan. "Awalnya jalan-jalan, terus nonton ada yang kumpul-kumpul di depan DPRD (Solo), sekira jam 02.00, terus ikut itu," ujar Agam.
Ia mengaku menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya. "Saya tidak ikut lempar atau merusak, cuma nonton saja," tambahnya.
Kapolresta Solo Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo membenarkan bahwa pihaknya mengamankan 65 anak yang terlibat aksi anarkis, beberapa di antaranya masih berstatus pelajar SMP dan SMA. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua untuk lebih mengawasi anak-anak.
Meskipun demikian, ada satu anak yang akan diproses hukum karena kedapatan membawa senjata tajam. "Ada satu yang kami proses, kaitannya UU Darurat," ungkap kapolresta.
Kombes Pol Catur juga mengimbau masyarakat Solo untuk tidak mudah terprovokasi. Ia menegaskan, "Ayo kita jaga Solo bersama," tegas dia. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno