RADARSOLO.COM – Perlahan tapi pasti, Kota Bengawan mulai bangkit dari bayang-bayang aksi unjuk rasa yang sempat berujung anarkis.
Pemulihan ini menjadi angin segar bagi sektor pariwisata yang sebelumnya sempat terguncang gelombang cancelation.
Meski ada pembatalan pesanan hotel dan resto, denyut pariwisata tak benar-benar berhenti. Deretan event olahraga hingga agenda kebudayaan tetap berjalan, menjaga okupansi hotel tetap hidup.
"Alhamdulillah untuk kondisi sekarang ini sudah terkendali dan membaik. Kini aksi unjuk rasa tidak lagi mengarah ke anarkis," ujar Sekretaris BPC PHRI Solo, Basid Burhanudin, Rabu (3/9).
Basid mengakui, kericuhan kemarin sempat memunculkan persepsi negatif dari luar kota. Imbasnya terasa langsung ke dunia pariwisata.
"Untuk penurunan jelas ada. Karena kemarin itu juga hari libur. Ada beberapa pesanan di-cancel, baik hotel maupun resto. Ada yang membatalkan acara ke Solo, ada juga yang memundurkan acaranya," lanjutnya.
Namun, dia bersyukur rangkaian event internasional tetap berjalan sesuai jadwal. Di antaranya ASEAN U-16 Women’s Championship 2025, 9th Asian School Basketball Championship (ASBC) 2025, hingga Kejurnas Atletik & Indonesia U-18 Open Championships 2025 di Stadion Sriwedari. Belum lagi agenda budaya seperti Solo International Performing Arts (SIPA) yang segera digelar.
"Alhamdulillahnya acara yang sudah ada tetap berjalan. Ada banyak event olahraga, termasuk atletik di Sriwedari. Ini yang tetap menjaga okupansi hotel kami," imbuh Basid.
Untuk memastikan Solo tetap aman dan nyaman bagi wisatawan, PHRI bersama Kadin, BPPD, pelaku usaha, hingga ormas rutin berkoordinasi dengan aparat.
"Kami bersama BPPD Solo, Bu Retno Wulandari, menegaskan kondisi Solo kini sudah aman. Meskipun masih ada penjagaan untuk menjaga kondusivitas," katanya.
Penggiat pariwisata sekaligus General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari, menambahkan perlunya sinergi berkelanjutan antara pemerintah, aparat, dan pelaku usaha.
"Sinergi untuk menguatkan kota ini agar segera pulih. Bersama-sama menjaga kondusivitas melalui peran masing-masing," tegasnya.
Dampak aksi juga dirasakan kalangan pramuwisata. Atri Wuri Sugiarsih, Seksi Sosial dan Kesra HPI Solo, menyebut ada wisatawan yang membatalkan jadwal kunjungan.
"Jadi untuk pengaruhnya kepada kami, khususnya dari Himpunan Pramuwisata Indonesia, juga ikut kena imbas. Meskipun tidak begitu banyak ya, tapi ada yang cancel, otomatis kita ikut tercancel," jelasnya.
Meski begitu, Atri optimistis badai ini akan segera berlalu. "Mudah-mudahan sedikit badai ini segera berlalu. Sehingga nanti kita akan kembali pulih dan baik-baik saja menjalankan profesi dan pekerjaan kita," pungkasnya.
(nis/nik)