RADARSOLO.COM – Tradisi Grebeg Maulid Nabi di Keraton Kasunanan Surakarta kembali menjadi magnet ribuan warga. Puncak acara berlangsung pada Jumat (5/9) dengan aksi rebutan gunungan yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat.
Aksi rebutan pertama terjadi di halaman Masjid Agung Surakarta. Begitu doa selesai, salah satu dari empat gunungan yang diarak dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat langsung ludes diserbu warga.
“Dapat kacang panjang dan cabai. Ini mau saya gantung di pawon (dapur). Ya untuk kepercayaan saja, biar berkah, biar dapurnya ngebul terus,” ungkap Wariyem, warga Kartosuro, Sukoharjo, yang sehari-hari berjualan keliling di kawasan Alun-alun Utara.
Baca Juga: Jelang Grebeg Maulud, Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta Dijamas
Takmir Masjid Agung Surakarta, Muhtarom, menjelaskan bahwa Grebeg Maulud merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tradisi ini sekaligus menjadi wujud rasa syukur dari Keraton Kasunanan Surakarta atas berkah yang sudah berjalan dan doa untuk kebaikan di masa depan.
“Harapannya masyarakat mampu mengambil makna dari simbol-simbol yang ada agar menjadi tenteram dan damai,” tutur Muhtarom.
Baca Juga: Tradisi Grebeg Suro Jatisrono Wonogiri Janjikan Kemeriahan, Ada Kirab Apem hingga Wayang Kulit
Grebeg Maulid sendiri digelar rutin setiap tahun. Empat gunungan—dua jaler (laki-laki) dan dua estri (perempuan)—diarak oleh abdi dalem dari keraton menuju Masjid Agung untuk didoakan dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Tak hanya di Masjid Agung, rebutan gunungan juga dilakukan di depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta.
“Rangkaian Grebeg Maulud ini dimulai dari jamasan pusaka, ditabuhnya gamelan sekaten, dan ditutup dengan Grebeg Maulud ini,” ujar KGPHA Dipokusumo, adik Raja Keraton Kasunanan SISKS Paku Buwono XIII Hangabehi.
Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, mendapatkan isi gunungan bukan sekadar rebutan biasa, melainkan diyakini membawa keberkahan untuk kehidupan sehari-hari. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy