Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Desain Proyek Revitalisasi Segaran Sriwedari Menyesuaikan Goa Swara, Ini Alasannya

Antonius Christian • Rabu, 10 September 2025 | 01:13 WIB

 

DIKEBUT: Pekerja tengah mengeruk tanah untuk proyek revitalisasi Segaran Sriwedari.
DIKEBUT: Pekerja tengah mengeruk tanah untuk proyek revitalisasi Segaran Sriwedari.

RADARSOLO.COM – Komisi III DPRD Kota Solo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek revitalisasi Segaran Sriwedari, Selasa (9/9/2025).

Sidak ini dilakukan untuk memastikan jalannya pengerjaan sesuai rencana, sekaligus meninjau langsung adanya penyesuaian desain setelah ditemukan situs bersejarah Goa Swara di area revitalisasi.

Pantauan koran ini, rombongan anggota Komisi III meninjau detail kawasan Segaran. Sejumlah titik yang kini tengah diproses kontraktor dipetakan satu per satu.

Sorotan paling mencolok adalah bangunan gazebo, yang semula dirancang menghadap ke selatan, namun kini diarahkan ke timur menghadap langsung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Ketua Komisi III DPRD Solo Taufiqqurahman menjelaskan, perubahan itu dilakukan karena adanya penemuan Situs Goa Swara yang statusnya telah masuk daftar cagar budaya.

Menurutnya, perubahan arah bangunan bukan hambatan berarti, melainkan bentuk penyesuaian agar revitalisasi tetap menghormati nilai sejarah kawasan.

“Ini yang jelas anggaran awal ditetapkan Rp 1,8 miliar, setelah proses lelang menjadi Rp 1,6 miliar. Di tengah perjalanan memang ada perubahan desain. Gazebo yang semula menghadap ke selatan, akhirnya diarahkan ke keraton karena ada Situs Goa Swara. Tapi tidak ada perubahan besar, proyek tetap berjalan sesuai rencana,” terangnya.

Taufiq menekankan, revitalisasi Segaran bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga menyangkut marwah Kota Bengawan. Menurutnya, kawasan Sriwedari memiliki nilai historis yang tidak bisa diabaikan.

“Insya Allah Desember bisa rampung. Prinsip kami di Komisi III, jangan dibiarkan kumuh. Kalau sudah tertata, masyarakat bisa menikmati lagi. Apapun konsekuensinya, peninggalan ini harus dirawat. Ini milik publik, milik warga Surakarta, bahkan Indonesia,” katanya.

Taufiq juga mengingatkan pentingnya sinergi lintas instansi, khususnya dengan Balai Pelestarian Kebudayaan.

Dia menegaskan, karena Goa Swara sudah tercatat sebagai cagar budaya, maka setiap langkah pengerjaan wajib dilaporkan dan mendapat pendampingan.

“Sudah kami daftarkan sebagai cagar budaya. Jadi pelaksanaannya harus ada komunikasi rutin ke pihak kebudayaan. Jangan sampai ada yang terlewat karena ini peninggalan berharga,” imbuhnya.

Selain Taufiq, Wakil Ketua Komisi III Y.F. Sukasno juga menyampaikan harapannya. Dia menilai revitalisasi Segaran seharusnya tidak hanya soal menata fisik, tapi juga mengembalikan memori kolektif warga Solo terhadap Sriwedari yang pernah berjaya di masa lalu.

“Kalau saya inginnya Sriwedari dikembalikan seperti Kebon Rojo era PB X. Jadi kita bisa bernostalgia, dan generasi setelah kita tahu sejarahnya. Saya masih ingat betul, waktu kecil sering main dan berenang di Segaran. Tempatnya asri sekali. Harapan saya atmosfer itu bisa dihidupkan kembali lewat revitalisasi ini,” ucapnya penuh kenangan.

Menurut Sukasno, wajah Sriwedari yang asri dengan Segaran sebagai ikon akan memberi warna lain bagi ruang publik Kota Solo. Apalagi letaknya yang strategis di jantung kota, akan mudah dijangkau masyarakat.

“Kalau sudah tertata, ini bisa jadi kebanggaan kita bersama. Bukan hanya warga Solo, tapi juga jadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin tahu sejarah kota ini,” tambahnya. (atn/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#Segaran Sriwedari #revitalisasi