Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Akademisi Ungkap Tantangan Pasca Revitalisasi Segaran Sriwedari

Silvester Kurniawan • Kamis, 11 September 2025 | 00:31 WIB
Pekerja menggarap revitalisasi Segaran di kompleks lahan Sriwedari belum lama ini.
Pekerja menggarap revitalisasi Segaran di kompleks lahan Sriwedari belum lama ini.

RADARSOLO.COM-Revitalisasi Segaran Sriwedari mendapat dukungan penuh dari akademisi, pegiat sejarah, dan pelaku budaya di Solo.

Mereka juga mengingatkan tantangan yang lebih besar setelah revitalisasi rampung.

Muhammad Aprianto, pegiat sejarah sekaligus Dosen UIN Raden Mas Said Solo yang terlibat dalam proses kajian sebelum revitalisasi mengatakan, revitalisasi Segaran sangat penting untuk ranah edukasi, sejarah, dan budaya.

“Ada sejarah panjang yang berkaitan dengan hadirnya Taman Sriwedari di era Pakubuwono (PB) X. Dari sejarah yang ada, ternyata kita (warga Solo) memiliki tempat yang sepenting ini, tentu revitalisasi menjadi hal yang vital untuk dilakukan,” ungkap Aprianto, Rabu (10/9/2025).

Aprianto mengingatkan agar Pemkot Solo berhati-hati dalam proses pemugaran, mengingat bentuk Segaran Sriwedari yang direncanakan kembali ke era 1920-1940 sudah banyak berubah.

Ia menyoroti bagian Guwo Swara di bawah Gazebo yang dibongkar.

Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana pemerintah menghidupkan lokasi itu setelah revitalisasi selesai.

Sejarah Panjang dan Dukungan Keraton

Dukungan revitalisasi juga mengalir dari Keraton Kasunanan Surakarta. KGPHA Dipokusumo, adik Raja PB XIII Hangabehi menyebut ada sejarah panjang terkait Taman Sriwedari.

Di era perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala, Sriwedari sempat menjadi salah satu opsi lokasi keraton.

“Karena itu nilai sejarahnya sangat kuat bagi keraton,” bebernya.

Baca Juga: Respons Gibran Usai Prabowo Reshuffle 5 Menteri, Minta Didoakan

Pembangunan Taman Sriwedari menjadi taman kota dan lokasi rekreasi terjadi di era PB X, terinspirasi dari kunjungan ke Taman Bogor.

Gagasan ini melahirkan Segaran, pemindahan koleksi satwa, hingga pentas wayang orang.

KGPHA Dipokusumo berharap, pasca-revitalisasi, Segaran Sriwedari dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan budaya.

"Taman Sriwedari memiliki sejarah yang tidak putus karena tak hanya dimanfaatkan untuk taman kota namun juga digunakan untuk kegiatan adat keraton misalnya di Malam Selikuran dengan Guwo Sworo yang dipakai untuk memainkan gamelan sebagai salah satu syiar agama Islam,"  beber Dipokusumo. (ves/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#tantangan #akademisi #Segaran Sriwedari #revitalisasi #dukungan