Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Doakan Indonesia Aman Sentosa, MAKIN Solo Gelar Sembahyang King Hoo Ping dengan Bakar Kapal Kertas

Silvester Kurniawan • Minggu, 14 September 2025 | 23:53 WIB
Prosesi Sembahyang King Hoo Ping yang dihelat di Litang Gerbang Kebajikan Solo, Minggu (14/9/2025).
Prosesi Sembahyang King Hoo Ping yang dihelat di Litang Gerbang Kebajikan Solo, Minggu (14/9/2025).

RADARSOLO.COM-Kondisi negeri yang sempat memanas dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian Majelis Khonghucu Indonesia (MAKIN) Solo.

Umat Khonghucu di Solo mendoakan bangsa Indonesia agar aman sentosa di tengah berlangsungnya prosesi Sembahyang King Hoo Ping yang dihelat di Litang Gerbang Kebajikan Solo, Minggu (14/9/2025).

Untaian doa untuk negeri ikut dilantunkan saat MAKIN Solo melangsungkan Sembahyang King Hoo Ping atau Sembahyang Arwah di rumah ibadah umat Khonghucu di Solo itu.

Mereka prihatin dengan kondisi sosial dan politik yang sempat panas dalam beberapa waktu terakhir.

Sebab itu, dalam ibadah khusus yang dilakukan untuk para arwah dan leluhur itu, ikut dipanjatkan doa untuk Indonesia yang aman dan sejahtera.

Doa untuk Pemimpin Bangsa dan Makna Kapal Kertas

“Di tengah doa kepada Tuhan dan para arwah leluhur, siang ini tadi juga disisipkan doa untuk negeri. Kami ikut mendoakan akan kondisi Indonesia yang sedang prihatin," jelas Rohaniawan Khonghucu WS Adjie Candra usai kegiatan.

"Kita doakan agar pemimpin bangsa diberikan kecerahan batin, diberi kemampuan berpikir sehingga bisa maksimal dalam bekerja dan mewujudkan Indonesia yang aman, sejahtera, dan lain sebagainya,” lanjut dia.

Rangkaian Sembahyang King Hoo Ping yang dimulai sejak pukul 11.00-14.00 diikuti oleh puluhan umat Khonghucu.

Prosesi peribadatan dipimpin para rohaniawan dengan bersembahyang ke Altar Tuhan, yang diikuti oleh umat yang hadir kala itu.

Di penghujung kegiatan, sebuah kapal kertas yang memiliki panjang lebih dari dua meter itu dibakar.

Baca Juga: Gejala Keracunan Ratusan Murid SMAN 2 Wonogiri Diduga Akibat Konsumsi Menu MBG, Dinkes: Keluhan Muncul setelah 12 Jam

Dibakarnya kapal kertas seperti itu sebagai bentuk penghormatan terakhir, mengingat kapal dipercaya sebagai transportasi terakhir bagi para arwah sebelum kembali ke alamnya.

“Ada legenda yang mengatakan bahwa transportasi massal zaman dahulu itu adalah kapal. Karena itu dalam setiap Sembahyang King Hoo Ping diakhiri dengan pembakaran replika kapal. Tahun ini di MAKIN Solo kapalnya lebih dari dua meter,” kata dia.

Selain replika kapal yang ukurannya jauh lebih besar dari tahun sebelumnya, Sembahyang King Hoo Ping yang dihelat pada tahun ini pun juga diikuti banyak peserta.

Hal ini terlihat dari banyaknya nama-nama leluhur yang ikut didoakan dalam prosesi sembahyang arwah siang itu.

Ini menunjukkan dijaganya akar budaya meskipun banyak generasi sekarang yang sudah tidak memeluk agama Khonghucu.

“Tahun lalu nama-nama leluhur yang ikut didoakan melonjak, tahun lalu 600-an nama, sekarang ini ada lebih dari 800 lebih. Walau sekarang banyak anak muda atau keluarga yang sudah tidak lagi beragama Khonghucu, tetapi mereka masih menghargai leluhur. Jadi mereka titip nama-nama yang didoakan,” papar Adjie.

Spesialnya Bulan Ketujuh Imlek untuk Persembahyangan Arwah

Sekadar informasi, Sembahyang King Hoo Ping ini dilakukan sebagai kelanjutan upacara keagamaan yang dilakukan sebelumnya.

Pada awal September kemarin, Litang Gerbang Kebajikan dan seluruh umat Khonghucu di Solo melakukan Sembahyang (khusus) Leluhur.

Prosesi peribadatan itu kemudian ditindaklanjuti dengan Sembahyang King Hoo Ping pada 14 September 2025.

“Kalau pakai penanggalan Imlek, hari ini masih masuk bulan tujuh (Tjit Gwee/Bulan Tujuh), ini bulan spesial untuk melakukan persembahyangan pada leluhur," jelas Adjie.

Menurut Adjie, ada dua kali sembahyang, yakni Tjit Gwee Pua (pertengahan bulan 7 Imlek) di 6 September.

Baca Juga: Mayat Warga Kalijambe Sragen Ditemukan di Dalam Sumur, Diperkirakan Meninggal Dunia Sejak Lima Hari lalu

Lalu sembahyang khusus pada leluhur dan Sembahyang King Hoo Ping di akhir bulan 7 Imlek yang merupakan sembahyang untuk semua arwah leluhur.

Pada bulan 7 Imlek ini pintu akhirat dibuka dan roh-roh diizinkan turun ke dunia untuk menengok keluarganya, pintu akhirat ditutup di akhir bulan 7 itu.

"Makanya orang Tionghoa, khususnya yang beragama Khonghucu, melakukan peribadatan pada mereka yang sudah tidak disembahyangi oleh anak cucu mereka,” hemat tokoh Khonghucu asli Solo itu. (ves)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#bakar #kapal #solo #King Hoo Ping #Makin #Konghucu #sembahyang