RADARSOLO.COM - Setelah membahas Semar, Gareng, dan Petruk yang sempat dibahas Jawa Pos Radar Solo, kini giliran membedah dan memahami figur Bagong dalam panggung Wayang Orang Sriwedari. Punakawan yang kerap memancing tawa itu menyimpan lapisan makna mendalam di balik setiap gerak dan wujudnya.
Pada dasarnya Bagong tampil humoris. Namun di balik kelucuan itu, setiap detail tubuhnya sarat dengan semiotika. Ambil contoh mata lebar yang berarti berpandangan luas.
Ini menandakan bahwa Bagong sering menyangkal dengan sendau gurau, plesedan namun memiliki dasar cara pandang berbeda.
"Mulut lebar, makan banyak sehingga perut buncit. Bisa diartikan serakah untuk berkata atau banyak omong," ucap Seniman asal Solo yang juga pernah berkecimpung di dunia Wayang Orang Eko W kepada Jawa Pos Radar Solo.
Lebih lanjut, Eko menjelaskan posisi Bagong sebagai anak ragil alias si bungsu menggambarkan karakter manja, ngeyel, tak mau mengalah, dan selalu ingin menang.
Tafsiran itu sejalan dengan posisi panakawan. Pana berarti tahu, kawan berarti teman. Dijelaskan, mereka adalah teman dekat para kesatria (pejabat).
"Panakawan simbol rakyat jelata yang dekat dengan pejabat. Sebagai anak bontot (generasi muda) yang memiliki wawasan luas ( belajar masa lalu dari literatur sejarah sebagai referensi) dan era sekarang yang menjadi masanya," lanjut Eko.
Lantas, bagaimana adaptasi peran Bagong di panggung gara-gara Wayang Orang Sriwedari dari masa ke masa? Eko menjelaskan dulu yang personalnya pak Mrajak, dalam memegang karakter ketika lawakan masih kental dengan etika dan menampilkan kualitas tembang atau gendhing, candaan seputar cerita.
"Masa berikutnya pak Kirno, banyak menampilkan kualitas akting dengan property. Sekarang candaan banyak lepas dari cerita tapi banyak melibatkan penonton sehingga masalah sosial dan trend anak muda (bahasa gaul) sering dimunculkan," paparnya.
Bukan hanya tampil di sesi gara-gara, Bagong juga bisa jadi lakon sama seperti saudaranya. Dalam pakem pewayangan, Semar pernah menjelma Prabu Saronsari. Gareng pun pernah menjadi Prabu Pragolamanik, sedangkan Petruk berubah jadi Prabu Belgeduwelbeh.
"Bagong dadi ratu bernama Joyopethakol," tuturnya.
Artinya, Bagong bukan hanya hadir untuk melucu atau menyindir. Dia juga berpotensi memegang kendali cerita di atas pementasan. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy