RADARSOLO.COM - Dari semua pengayuh becak di Solo, Nurdalilah Qurrotaayun merupakan satu-satunya yang perempuan. Tubuh mungilnya menyimpan tekad besar demi anak dan keluarganya.
Saat matahari mulai merangkak naik di langit Solo, deretan becak mulai memenuhi pangkalan Alun-Alun Utara Keraton Surakarta.
Mayoritas pengayuhnya adalah lelaki paruh baya dengan kulit legam akibat sengatan matahari.
Namun di antara mereka, ada satu sosok berbeda—seorang perempuan mungil berkerudung sederhana, dengan senyum ramah yang selalu tersungging.
Namanya Nurdalilah Qurrotaayun, akrab disapa Ayun. Lahir di Solo pada 16 Mei 2000, ia menjadi satu-satunya perempuan yang memilih bertahan di profesi yang lekat dengan kaum laki-laki: pengayuh becak.
“Kalau sekilas lihat becak memang besar, kayaknya susah dikendalikan. Padahal sama saja seperti mengayuh sepeda,” ucapnya lirih sambil merapikan kain sarung yang menutupi jok becaknya.
Ayun tumbuh dalam keluarga sederhana. Mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA harus kandas karena keterbatasan biaya.
“Daripada bingung mau apa, akhirnya ikut bantu bapak ngayuh becak,” kenangnya.
Sejak 2016, ia mulai serius menekuni pekerjaan ini. Awalnya hanya sekadar membantu, namun lama-lama menjadi rutinitas.
Dua kali seminggu, setiap Senin dan Kamis, Ayun turun ke jalan mengangkut tumpukan pakaian dari alun-alun utara menuju Pasar Klewer.
“Sebenarnya dari SD sudah bisa ngayuh becak. Kalau ada saudara dari luar kota, saya yang ngayuh muter-muter alun-alun kidul sambil lihat kebo bule,” ujarnya sembari tertawa kecil.
Nah, 2018 menjadi titik balik. Setelah menikah dan dikaruniai seorang anak, ia sempat berhenti lebih dari setahun.
Namun setelah kondisi memungkinkan, ia kembali ke pangkalan. Ada batas yang ia tetapkan. Becaknya hanya untuk mengangkut barang, bukan penumpang.
“Takutnya kalau ada penumpang rese atau punya niat jelek. Apalagi saya perempuan. Kecuali kalau sudah sepuh atau orang yang saya kenal,” katanya tegas.
Sebelum pandemi, sekali jalan Ayun mampu membawa hingga 50 lusin pakaian, bolak-balik empat sampai lima kali sehari. Tubuh mungilnya seakan menantang stigma bahwa becak hanya milik lelaki.
Namun pandemi Covid-19 membuat pasar sepi. Orderan turun drastis, kini paling banyak hanya dua kali jalan, membawa sekitar 25 lusin pakaian.
“Upahnya tergantung orang. Ada yang kasih Rp15 ribu per lusin, ada yang Rp 20 ribu. Berapapun saya terima, yang penting halal,” ucapnya pasrah.
Musibah menimpa Juli lalu. Becak kesayangannya hilang saat ada penggerebekan rokok ilegal di sekitar pangkalan.
“Saya ikut lari, kirain ada apa. Pas balik, becaknya sudah nggak ada. Kirain dibawa bapak, ternyata benar hilang,” kisahnya getir.
Namun takdir berkata lain. Pada sebuah acara apresiasi mitra Dishub Solo, Ayun mendapat hadiah becak baru.
“Alhamdulillah, bisa kerja lagi. Kalau tidak, saya bingung mau apa,” ujarnya lega.
Bagi Ayun, becak bukan sekadar alat mencari nafkah. Dari atas sadel itulah ia mengayuh harapan—untuk anak, keluarga, sekaligus dirinya sendiri.
“Kalau dibilang berat ya memang berat. Tapi karena kerjanya fleksibel, saya bisa tetap urus anak. Jadi tidak terlalu terbebani,” tuturnya.
Kehadiran Ayun di antara deretan becak Kota Bengawan menjadi simbol keberanian. Ia membuktikan bahwa tekad mampu melampaui batasan gender. Bahwa perempuan bisa berdiri tegak di ruang-ruang yang biasanya dikuasai laki-laki. (atn/bun)
Editor : Niko auglandy