RADARSOLO.COM - Biasanya mereka dikenal lewat lantunan nyanyian penuh semangat di Stadion Manahan, memompa energi bagi Laskar Sambernyawa –julukan Persis Solo. Tapi kali ini, Ultras Campus 1923 tampil berbeda.
Bukan teriakan dukungan yang digaungkan, melainkan ajakan membaca lewat sebuah aksi unik yaitu perpustakaan jalanan.
Tak ada rak buku tinggi, tak ada ruangan ber-AC. Hanya kain spanduk bekas dibentangkan di trotoar sudut Kota Bengawan. Di atasnya, puluhan buku berjejer rapi menanti siapa saja yang ingin singgah. Trotoar yang biasanya jadi tempat lalu-lalang kini berubah jadi ruang pengetahuan sederhana.
“Perpustakaan jalanan ini merupakan salah satu program baru dari komunitas. Selaras dengan tujuan awal Ultras 1923 sebagai organisasi yang lahir dari kesadaran kolektif,” terang Aditya, anggota Ultras Campus 1923.
Ultras Campus 1923 beranggotakan para suporter yang berkesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka ingin menunjukkan bahwa kelompok suporter tak melulu soal stigma negatif. Dengan pakaian serba hitam, mereka kini membagikan bacaan gratis kepada siapa saja.
“Konsepnya sederhana. Kami membuka donasi buku dari siapapun, temanya bebas. Ada space untuk digelar, dibaca, dan dipinjam orang lain,” lanjut Aditya.
Tak heran, koleksi bukunya pun beragam. Dari yang kental aroma Persis Solo seperti Bangkitlah Sang Legenda: Kiprah Persis Solo di Dunia Sepakbola karya Nikko Auglandy, jurnalis Jawa Pos Radar Solo, hingga bacaan populer seperti Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat.
“Komposisinya berimbang. Sepak bola wajib ada, tapi bacaan lain juga penting untuk membentuk pikiran,” katanya.
Masyarakat pun menyambut positif inisiatif ini. Meski jadwalnya masih fleksibel, aksi perpustakaan jalanan biasanya digelar sore hingga malam. Ke depan, Ultras Campus 1923 tak hanya ingin menyediakan buku, tapi juga menghidupkan diskusi atau bedah buku di ruang terbuka itu.
“Harapannya, gerakan ini bisa jadi percontohan bagi kelompok suporter lain di Solo. Hal positif harus terus dikembangkan,” ujar Aditya.
Dengan cara sederhana, Ultras Campus 1923 membawa pesan untuk mengingatkan bahwa semangat mendukung tim kebanggaan tak berhenti di stadion. Di trotoar, lewat buku, mereka membuktikan bahwa suporter juga bisa menyalakan api literasi. (nis/bun)
Editor : Kabun Triyatno