RADARSOLO.COM – Batik Art Installation 2025 hadir di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, 20-28 September. Ajang ini mengusung tema “Past, Now, Future”.
Lebih dari sekadar pameran, Batik Art Installation menjadi pengingat bahwa batik bukan sekadar warisan yang dibingkai masa lalu, melainkan napas budaya yang terus bergerak mengikuti zaman. Begitu kaki melangkah ke dalam Bale Pangenggar, suasana seketika berubah.
Ratusan helai kain batik menggantung berderet. Menciptakan lorong berwarna yang seolah membawa pengunjung masuk ke dalam perjalanan panjang wastra nusantara.
Mulai dari coretan desain di atas kertas, kain putih bermotif yang masih dilapisi malam, hingga proses peluruhan lilin di kuali berisi air mendidih. Semuanya ditampilkan utuh.
Inilah panggung besar batik, yang tak hanya memamerkan hasil akhir, tetapi juga setiap detail prosesnya. Kian melangkah ke dalam, pengunjung akan disuguhi lembaran batik sogan, walang kekek, batik klasik buatan Siti Sendari, batik peranakan Tionghoa, hingga rancangan desainer kenamaan.
Koleksi-koleksi batik ini dipajang megah dengan sentuhan lampu chandelier. Bahkan di ujung perjalanan, pengunjung bisa merasakan sensasi berada di belakang panggung catwalk. Lengkap dengan cermin-cermin full body layaknya ruang rias peragaan busana.
Pengalaman seperti fashion show sangat terasa bahkan meuju akhir pengunjung diberikan pengalaman merasakan backstage catwalk yang dilengkapi cermin-cermin full body.
“Kalau kita ngomong batik itu, ya bukan sekadar kain bermotif. Ada perjalanan di situ. Dulu, sekarang, dan nanti. Before, Now, and Future,” kata Djongko Rahardjo, Kurator Batik Installation.
Djongko menekankan, batik adalah legacy. Peninggalan yang tak cukup sekadar dipandang indah, melainkan diwariskan dan dijaga.
“Kalau pedagang ya mikirnya sing penting laku. Tapi kalau kita peduli, tanggung jawabnya lain: gimana caranya warisan ini tetap terjaga sampai kapanpun,” ujarnya.
Di balik setiap helaian batik, tersimpan cerita. Ada batik klasik dari Kampung Laweyan dan Kauman, batik sogan halus buatan Siti Sendari, hingga karya Panembahan Hardjonagoro Go Tik Swan, seorang Tionghoa yang begitu mencintai budaya Jawa sampai diakui Presiden Soekarno.
Bahkan, batik koleksi penyanyi legendaris Waldjinah ikut dipamerkan. Tak sekadar pameran, instalasi ini ingin menjadi ruang belajar.
“Kalau masuk ke sini, kamu bisa dapat semuanya. Sejarahnya ada, edukasinya ada, bahkan hiburannya juga ada. Jadi bukan cuma sekadar tempat foto-foto Instagramable,” kata Djongko.
Penyelenggara acara, Rendy Hapsanto, punya alasan pribadi mengapa ingin menghadirkan instalasi batik ini.
“Awalnya saya kan desainer, pegang Solo Batik Fashion (SBF) dua tahun. Tapi saya merasa, kenapa yang diangkat selalu desainer? Padahal pembatiknya sendiri luar biasa. Dari situ saya pengin bikin event yang justru mengangkat pembatiknya,” cerita Rendy.
Dia mengatakan, generasi muda makin jauh dari batik. Banyak yang mengira batik hanyalah kain printing bermotif. Padahal, di balik sehelai batik tulis, ada proses panjang, ketekunan, dan filosofi yang tak ternilai.
“Masyarakat perlu tahu bedanya. Batik itu bukan cuma soal motif indah. Ada pakem, ada doa, ada makna di setiap corak. Misalnya untuk upacara mitoni, ada batik khusus yang dipakai sebagai simbol harapan untuk anak. Itu warisan yang enggak bisa tergantikan,” jelasnya.
Dalam pameran yang berlangsung hingga 28 September ini, sekitar 12 pembatik dilibatkan. Mereka bukan sembarang pengrajin, melainkan tokoh-tokoh yang karya dan dedikasinya sudah melegenda. Koleksi yang ditampilkan mencapai ratusan, sebagian bahkan berasal dari kolektor pribadi Fafa Utami, dosen ISI Solo yang menyimpan lebih dari 1.200 kain batik.
Bagi Rendy, instalasi ini juga bentuk ikhtiar agar batik bisa diterima lintas generasi. Ia paham, anak muda kini lebih akrab dengan busana ala Korea atau tren fashion global. Karena itu, batik harus dikemas ulang tanpa meninggalkan pakem.
“Batik itu bukan berarti cuma buat kondangan atau jarik. Batik bisa dipakai nongkrong, bisa dipadu gaya modern. Yang penting motif dan pakemnya tetap dihargai. Dengan begitu, batik enggak ditinggalkan, malah dicintai,” katanya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto