Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pemakaman di Kota Solo Dikonsep Bisa jadi Destinasi Wisata

Antonius Christian • Jumat, 3 Oktober 2025 | 00:21 WIB
HEROIK: Relief di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti yang berisikan perjuangan para pejuang kemerdekaan.  Pemakaman Bisa jadi Destinasi Wisata SOLO, Radar Solo – Kedepan wajah pema
HEROIK: Relief di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti yang berisikan perjuangan para pejuang kemerdekaan. Pemakaman Bisa jadi Destinasi Wisata SOLO, Radar Solo – Kedepan wajah pema

RADARSOLO.COM – Kedepan wajah pemakaman di Kota Bengawan bisa diubah. Dari yang terkesan horor, bakal ditata rapi, bahkan bisa menjadi destinasi wisata. Hal ini diungkapkan Ketua Pansus Raperda Penyelenggaraan Taman Pemakaman, Yudha Sindu Riyanto usai public hearing, Kamis (2/10).

Yudha menuturkan bahwa banyak masukan yang dia dapat untuk pembenahan area tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Solo.

"Jadi kami inginnya raperda ini nanti, ketika sudah disahkan, tidak hanya mengatur administrasi, tapi harus benar-benar menjawab kebutuhan sekaligus memberi solusi jangka panjang," katanya.

Ketua fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Solo ini menambahkan isu yang paling banyak mencuat adalah lahan TPU yang kian menyusut.

Dengan luas wilayah yang relatif sempit, ketersediaan lahan untuk taman pemakaman di Kota Bengawan diperkirakan hanya bertahan beberapa tahun ke depan.

“Ini pekerjaan rumah kita bersama. Jangan sampai ketika warga membutuhkan makam, pemerintah tidak siap,” jelas legislator mudah ini.

Namun, Yudha tidak berhenti pada soal lahan, dia justru menyoroti peluang besar yang bisa digarap dari keberadaan taman pemakaman. Menurutnya, stigma makam sebagai tempat horor dan menyeramkan harus diubah.

“Kami ingin TPU menjadi ruang publik yang rapi, hijau, nyaman, dan bahkan bisa menjadi destinasi wisata religi maupun sejarah,” paparnya.

Yudha menyebut, banyak kota besar di dunia berhasil mengubah taman pemakaman menjadi ruang wisata sekaligus sarana edukasi. Misalnya, makam-makam bersejarah di Eropa yang ramai dikunjungi wisatawan karena ditata rapi, diberi informasi digital, hingga menjadi lokasi tur sejarah.

“Kenapa Solo tidak bisa? Kita punya TPU Bonoloyo, yang menyimpan sejarah panjang dan sering dikunjungi warga saat nyadran. Kalau dikelola dengan baik, diberi penerangan, dibuatkan sistem informasi lokasi makam, bahkan dilengkapi jalur pedestrian, TPU kita bisa menjadi daya tarik wisata yang berkelas,” terang Yudha.

Dalam draf raperda, taman pemakaman akan dibagi tiga kategori, yakni TPU, taman pemakaman bukan umum, dan taman pemakaman khusus. Yudha menegaskan pelayanan jasa pemakaman di TPU tetap gratis, sehingga masyarakat tidak terbebani biaya.

Selain itu, raperda juga menyiapkan standar pelayanan. Mulai dari fasilitas drainase, tempat ibadah, tempat bilas, kamar kecil, area parkir, hingga pencahayaan untuk pemakaman malam hari.

“Standarisasi ini penting. Tidak hanya agar TPU berfungsi dengan baik, tapi juga memberi kenyamanan bagi keluarga yang berziarah,” ujarnya.

Yudha menambahkan, sistem digital juga bakal dikembangkan. Nantinya, keluarga tidak lagi kesulitan mencari letak makam. “Bayangkan kalau ada aplikasi pencarian lokasi makam. Tinggal ketik nama, langsung ketemu titiknya. Ini sekaligus menjawab keluhan warga selama ini,” tegasnya.

Pansus menekankan, raperda ini bukan sekadar mengurus kubur. Lebih jauh, regulasi ini diharapkan bisa mempercantik wajah kota. Taman pemakaman dipandang sebagai bagian penting dari tata ruang perkotaan.

“Kalau TPU dibiarkan kumuh, penuh semak, tentu merusak estetika. Tapi kalau ditata rapi, bisa jadi ruang hijau. Bahkan orang tidak akan segan mampir, karena selain berziarah juga bisa menikmati suasana yang asri,” terang Yudha. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#tpu #pemakaman #horor