RADARSOLO.COM – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Sentra Produksi Pangan Jajanan (SPPG) di Kecamatan Jebres, Kota Solo, Rabu (8/10) pagi.
Didampingi Wali Kota Solo Respati Achmad Ardianto, Gubernur menegaskan pentingnya setiap pengelola SPPG mengantongi sertifikat keamanan pangan untuk melindungi anak-anak sekolah dari risiko makanan berbahaya.
Sidak ini menjadi bagian dari komitmen Pemprov Jawa Tengah dalam memperkuat pengawasan mutu pangan di lingkungan sekolah.
Langkah itu dilakukan menyusul sejumlah kasus keracunan makanan siswa yang terjadi di beberapa daerah.
Selain meninjau fasilitas produksi, Ahmad Luthfi juga berdialog langsung dengan pengelola SPPG.
Dia menekankan bahwa saat ini pemerintah daerah memiliki kewenangan lebih luas dalam proses sertifikasi dan verifikasi keamanan pangan.
“Sekarang sertifikasi tidak lagi hanya dari Kementerian Kesehatan. Pemerintah kabupaten/kota, termasuk wali kota, bisa melakukan verifikasi dan inspeksi langsung. Hasilnya diuji di laboratorium agar kualitas pangan benar-benar terjamin,” tegas mantan Kapolda Jateng itu.
Menurutnya, mekanisme baru tersebut akan mempercepat penanganan kasus sekaligus memperkuat pencegahan dini terhadap potensi makanan berisiko di sekolah.
Setelah proses verifikasi, petugas lapangan juga akan mendapatkan pelatihan khusus pengolahan dan penyajian makanan yang higienis serta bergizi seimbang.
“Petugas SPPG akan dilatih cara menjamah makanan dengan benar dan memahami kandungan gizinya. Dengan begitu, kita bisa memastikan anak-anak tidak lagi terpapar makanan berbahaya,” ujarnya.
Ahmad Luthfi mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 1.596 SPPG yang sudah beroperasi di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Semua lembaga itu diarahkan memperkuat sistem komunikasi dan pengawasan terpadu, termasuk melalui grup komunikasi daring yang melibatkan petugas SPPG, wali murid, siswa, kepala sekolah, hingga ibu hamil dan menyusui di sekitar sekolah.
“Di grup itu ada komunikasi dua arah. Ada dialog, masukan, bahkan laporan cepat bila ditemukan hal mencurigakan. Jadi bukan hanya top-down, tapi masyarakat juga ikut berpartisipasi aktif,” jelasnya.
Selain menjamin keamanan pangan, program SPPG juga diharapkan mampu memperbaiki pola gizi anak sekolah.
Pemerintah ingin memastikan anak-anak Jawa Tengah tidak hanya terhindar dari keracunan, tapi juga tumbuh sehat, kuat, dan cerdas.
“Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Kalau gizinya baik, otomatis kualitas pendidikan meningkat,” tandasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakMana
Dia menilai peran aktif kelompok masyarakat seperti PKK menjadi elemen penting dalam menjaga keberlanjutan program di lapangan.
“Contohnya di Solo, ibu-ibu PKK ikut membantu mengawasi makanan. Mereka mencicipi, mengecek, dan memberi masukan. Kehadiran mereka menambah rasa peduli, karena yang dijaga ini anak-anak kita sendiri,” katanya.
Ahmad Luthfi juga meminta agar setiap kabupaten/kota mendirikan posko pengawasan pangan 24 jam sebagai pusat pengaduan, pengecekan, dan tanggap darurat.
“Kalau terjadi sesuatu, bisa segera direspons. Posko harus terhubung dengan Dinas Kesehatan dan ada petugas siaga 24 jam. Jadi tidak ada jeda waktu dalam penanganan,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Solo Respati Achmad Ardianto menegaskan bahwa Pemkot siap menindaklanjuti arahan Gubernur dengan memperkuat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kami siap memperkuat sistem pengawasan di sekolah dan lingkungan. Program SPPG ini bukan sekadar formalitas, tapi upaya nyata menjaga kesehatan generasi muda,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy