RADARSOLO.COM – Sudah 13 tahun dapur sekolah SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta berdiri tegak menjaga semangat kemandirian dan kesehatan.
Sejak 2012, sekolah ini konsisten memasak makan siang sendiri—bukan katering—demi memastikan 500 lebih siswanya menikmati hidangan sehat, bergizi, dan hangat setiap hari.
Awalnya, ide mendirikan dapur sekolah muncul setelah evaluasi kerja sama dengan pihak katering. Kala itu, banyak makanan tersisa karena tidak sesuai selera anak-anak. Dari sanalah muncul gagasan: memasak sendiri agar cita rasa dan kualitas terjaga.
“Ternyata anak-anak jauh lebih lahap makan dari dapur sekolah. Nasi dan lauknya hangat, rasanya pas, bahkan ada menu yang selalu habis diserbu,” tutur Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat, Nursalam, Kamis (9/10).
Kini, dapur sekolah yang diberi nama Katering Amanah memproduksi sekitar 500 porsi makan siang setiap hari untuk siswa kelas 1–6. Seluruh proses dikelola tim dapur sekolah dengan pengawasan ketat dari Puskesmas setempat—mulai dari kebersihan air, bahan baku, hingga komposisi gizi.
“Menu kami selalu dikonsultasikan. Unsur karbohidrat, sayur, protein, dan vitamin terukur. Bahkan secara berkala, dapur kami dicek oleh Puskesmas,” jelas Nursalam.
Namun, dapur ini tidak sekadar tempat memasak. Ia juga menjadi ruang pembelajaran karakter. Siswa diajak belajar tanggung jawab melalui sistem makan prasmanan.
“Siswa antre dengan tertib, membawa peralatan makan sendiri, lalu mencuci setelah selesai. Itu bagian dari pendidikan karakter—melatih kemandirian dan kebersihan,” ujarnya.
Selain makan siang, sekolah juga menyediakan snack time pada jam istirahat pertama. Semua bahan dipastikan halal, thayyib, dan segar.
“Anak-anak bahkan lebih suka masakan sekolah. Guru juga kami siapkan makan,” tambahnya.
Terkait program makan bergizi gratis (MBG) dari pemerintah, Nursalam menilai kebijakan itu luar biasa, asalkan tepat sasaran.
“Kalau bisa dievaluasi saja sasarannya. Sekolah yang sudah punya dapur mandiri mungkin bisa mendapat bentuk dukungan lain, seperti subsidi bahan pangan,” ujarnya.
Pihak sekolah juga berdialog dengan orang tua untuk menyesuaikan selera anak dan memastikan keberlanjutan bagi para petugas dapur.
“Kami ingin program makan ini tetap berjalan dan terus mendukung anak-anak tumbuh sehat,” katanya.
Hari itu, menu makan siang di sekolah adalah sop galantin lengkap dengan nasi, makaroni, ayam, sayur, dan buah anggur. Semua bahan dipasok segar setiap pagi.
“Menu disusun bulanan, dengan survei alergi makanan di awal tahun ajaran,” kata Koordinator Katering Amanah, Ratih Laila Rahmawati.
“Kalau ada anak alergi udang, kami ganti dengan telur. Semua kami siapkan dengan penuh tanggung jawab.” (nis/bun)