RADARSOLO.COM – Wajah transportasi Kota Bengawan kian berwarna. Kini, kendaraan roda tiga mirip bajaj yang pernah melegenda di Jakarta mulai wara-wiri di sejumlah ruas jalan Solo.
Namanya Bajaj Maxride. Meski izin operasionalnya di tingkat kota masih belum jelas, kendaraan mungil berwarna merah menyala ini justru menjadi ladang penghasilan baru bagi para pengemudinya.
Rabu (9/10) pagi, wartawan Radar Solo menjajal langsung layanan Maxride.
Dari kawasan Gendengan menuju Plaza Sriwedari, ongkos yang tertera di aplikasi hanya Rp7 ribu.
Tak lama berselang, suara khas “ngereng” tiga roda terdengar dari kejauhan.
Sebuah bajaj merah berhenti di tepi Jalan Slamet Riyadi—menarik perhatian sejumlah pengguna jalan.
Sekilas, tampilannya mengingatkan pada bajaj biru yang dulu ramai di ibu kota.
Namun versi Solo ini tampil jauh lebih modern. Bodi mengilap, desain kokoh, dan interior bersih.
Aroma kendaraan baru masih tercium kuat. Kursi penumpang bahkan masih dilapisi plastik bening. Satu yang mencolok, bagian pengemudi belum dilengkapi pintu di sisi kanan dan kiri.
“Potongan Cuma 10 Persen, Lebih Untung dari Ojol”
Di sela perjalanan, pengemudi Maxride yang enggan disebut namanya bercerita, ia baru sepekan bergabung. Sebelumnya, pria paruh baya itu merupakan pengemudi ojek online (ojol). Ia beralih karena merasa sistem Maxride lebih menguntungkan.
“Kalau di ojol, potongan hasilnya bisa sampai 20 persen. Di Maxride cuma 10 persen, itu pun langsung otomatis lewat aplikasi,” tuturnya.
Pria itu mulai beroperasi sekitar pukul 10.00 WIB. Ia sengaja menghindari jam sibuk pagi demi menguasai dulu kendali bajaj yang dianggap lebih berat dibanding motor.
“Biasanya bawa motor, lebih ringan. Kalau bajaj, manuvernya agak susah kalau jalanan padat. Jadi saya keluar agak siangan. Dari pagi sampai siang baru dapat tiga penumpang, termasuk jenengan,” ujarnya sambil tersenyum.
Sewa Harian dan Armada Masih Terbatas
Sistem kerja di Maxride ternyata berbasis sewa. Setiap pengemudi membayar biaya harian kepada pengelola dan boleh membawa pulang unit selama pembayaran lancar.
“Sewa dibayar langsung ke kantor, di daerah Banyuanyar. Katanya dari seratus unit armada, baru sekitar 25 yang beroperasi. Masih bertahap,” jelasnya.
Soal izin operasional? Ia mengaku tak tahu-menahu.
“Kalau urusan izin itu kantor yang ngatur. Saya cuma mitra saja. Tapi setahu saya mungkin sudah diurus. Harapannya ya semoga tetap bisa jalan, karena ini sumber penghasilan kami,” ujarnya.
Belum Jelas, Tapi Sudah Jalan
Kehadiran Bajaj Maxride ini memang menarik perhatian. Di tengah padatnya moda transportasi daring, Maxride mencoba mencuri celah dengan konsep klasik bernuansa modern.
Namun, sampai berita ini ditulis, status izinnya di Kota Solo belum mendapatkan kejelasan dari pihak terkait.
Meski begitu, kendaraan tiga roda ini terus beroperasi, mengantarkan penumpang dari satu sudut kota ke sudut lain. Warga pun mulai penasaran mencoba sensasi naik bajaj dengan nuansa kekinian ini. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy